Feeds:
Pos
Komentar

NICE HOMEWORK #3

📚MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 📚

Alhamdulillah sudah memasuki minggu ketiga mengikuti Matrikulasi IIP Batch 3. Berikut merupakan NICE HOME WORK minggu ini:

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Okey Let’s GO!

a. For My Man, My Lovely Husband

Perjalanan ini tak terasa telah melewati 4 tahun yang berjuta rasa. Ada rasa bahagia, namun tak jarang pula kita temui air mata. Namun, tahukah kau, Suamiku? Apapun yang kita rasa, itulah yang membawa kita pada kata “dewasa”. Menyatukan ego dua manusia bukanlah hal yang mudah, tapi dengan ikatan cinta tali ego dapat kita coba longgarkan dengan alasan: cukup ku lihat dia Bahagia.

Ah,.kadang manusia begitu gemar mengamati keburukan dengan seksama tanpa mencoba mencari celah kebaikan yang ada. Suamiku, mungkin kita bisa jadi seperti itu, tapi mari kita sama-sama berusaha melihat terus kebaikan pada diri pasangan, karena tentu bahagia menjadi pilihan rasa yang utama. Karena Cinta bukan mencari pasangan yang sempurna, tetapi menerima pasangan kita dengan sempurna.

Terima Kasih telah menjadi bagian dari sejarah hidupku. Mari kita saling bersinergi, berusaha belajar menjadi lebih baik. Bukankah masih banyak impian yang ingin kita raih bersama? Semoga Allah SWT senantiasa mengikat kedua hati kita. Saling bertautan satu sama lain dalam karunia CintaNya.

“Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu.” (Dalam Doaku, Sapardi Djoko Damono)

B. Potensi anakku Raihan Muhammad Hatta

  1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar, senantiasa bertanya
  2. Memiliki ketertarikan pada musik
  3. Senang bersosialisasi
  4. Aktif dan berenergi, senang berlari
  5. Cepat menangkap kosakata baru (Raihan dapat berbahasa Indonesia tanpa kami orang tua ajari, Raihan dapat membuat kalimat bahasa Indonesia hanya dari mendengar teman berbicara atau melihat film, sehari-hari Raihan kami ajari bahasa sunda)
  6. Memiliki kemampuan motorik halus yg cukup baik, dapat menggunting, meronce dll

C. Potensi diri saya

  1. Selalu optimis dalam melakukan apapun
  2. Mudah berempati pada kesulitan orang lain
  3. Memiliki skill menulis yg cukup baik
  4. Menyukai anak kecil dan dunia pendidikan anak
  5. Senang membaca
  6. Ceria dan selalu berusaha melihat sesuatu dari kacamata positif
  7. Ramah dan senang bergaul
  8. Memiliki kemampuan public speaking

Saya dihadirkan Allah di keluarga kecil ini dengan potensi yang saya miliki, bisa jadi karena Allah ingin saya menjadi “penyemangat” bagi anak dam suami saya. Memotivasi mereka ketika mereka merasa jatuh, menjadi orang yg selalu memberi masukan positif ketika mereka kesulitan.

Ilmu saya d dunia pendidikan yang saya tempuh semasa kuliah, bisa jadi merupakan kado dari Allah untuk memudahkan saya mengurus anak, menjadikan saya ibu yg lebih sabar dan menyenangkan

Kegemaran saya membaca dan menulis mudah2n menjadi bekal saya untuk terus semangat belajar memperbaiki diri.

D. Tantangan di lingkungan rumah adalah

  1. Bahasa anak dan remaja yang kasar
  2. Beberapa tetangga yang kurang ramah

Bisa jadi saya dan keluarga dihadirkan di tengah lingkungan ini untuk menjadi pengingat bagi para anak2, dengan dekatnya saya dengan anak2 memudahkan saya untuk mengingatkan dan menasehati mereka secara lembut untuk berbahasa dan bersikap lebih baik.

Tetangga yang kurang ramah merupakan lahan dakwah untuk kita beri contoh bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap terhadap tetangga.

Lanjut Baca »

📚NICE HOME WORK #2📚

📝✅“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”✅

Bismillah. Setelah dua minggu dilewati kini saya sampai pada Nice Home Work Matrikulasi IIP kedua. Untuk tugas kali ini rasanya sulit untuk menuliskannya, terlihat mudah namun proses dan tanggung jawab di belakangnya amat besar.

Menjadi perempuan hebat, sempurna baik sebagai individu, istri maupun ibu bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh proses dan waktu. Dan tentu saja kita tidak akan pernah bisa menjadi Perempuan Profesional  jika kita sendiri tidak tahu indikator profesional itu seperti apa. Betul seperti yang disebutkan dalam materi Matrikulasi Kedua bahwa kunci dari membuat Indikator adalah SMART yaitu:
– SPECIFIK (unik/detil)
– MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
– ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
– REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
– TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Maka ini dia checklist indikator yang harus dapat saya lakukan agar bisa menjadi seorang Perempuan yang Profesional:
a. Sebagai individu

Hablu minnallah

Sebagai individu, tentu hal yang utama harus saya sadari adalah bagaimanapun saya adalah seorang hamba Allah, maka menjadi individu utamanya ialah menjadi hamba Allah yang baik, diantaranya yaitu:

Hablu minallah

  1. Shalat wajib tepat waktu, maksimal 15 menit setelah adzan
  2. Shalat Tahajud minimal 2 kali dalam satu pekan
  3. Shalat Dhuha minimal 3 kali dalam satu pekan
  4. Tilawah Quran tiap bada shalat  wajib
  5. Dzikir Pagi dan Petang
  6. Sedekah
  7. Senantiasa bersyukur atas segala nikmatNya
  8. Berusaha berbaik sangka akan segala takdirNya

Dan menjadi individu yang baik, selalu berkaitan pula dengan bagaimana menjadi bagian dari lingkungan maka individu yang baik bagi saya adalah

Hablu minnanas

  1. Senantiasa menyapa terlebih dahulu
  2. Banyak bertanya daripada bercerita
  3. Berusaha menjadi teman terbaik bagi siapa saja
  4. Tidak sombong
  5. Selalu berbaik sangka pada setiap orang
  6. Silaturahmi pada teman minimal sebulan 2x

b. Sebagai istri

Bukan sesuatu yang mudah menanyakan indikator yang diinginkan suami pada seorang istri agar suami bahagia. Sampai batas waktu suami tidak memberi jawaban apapun, akhirnya saya kira saja apa yang diinginkan suami berdasarkan kritik dan saran yang selama ini dilayangkan suami

  1. Selalu berpenampilan menarik depan suami, no daster dan rajin touch up, hehe karena suami orang visual jadi penampilan memang sering jadi hal yang dikritisi suami
  2. Menjadwalkan ke Salon minimal sebulan sekali
  3. Selalu tersenyum dan menyambut suami dengan baik
  4. Berusaha memakai kerudung segi empat kemana pun pergi, no kerudung instan
  5. Senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah
  6. Menjadi pendengar yang baik
  7. Bersyukur atas rezeki yang Allah titipkan lewat suami, No Ngeluh
  8. Membantu keuangan suami
  9. Mengatur keuangan keluarga dengan lebih baik
  10. Senantiasa membuat suasana rumah senyaman mungkin
  11. Menyiapkan menu harian yang enak dan variatif

c. Sebagai ibu

Anak saya, Raihan usianya masih 2 tahun jadi belum bisa diajak diskusi dan ditanyai mengenai indikator ibu yang baik menurut versinya. Maka seperti pula indikator sebagai istri, indikator sebagai ibu pun saya prediksi sendiri ^_^’

  1. Bersabar akan semua tingkah lakunya, saya yakin anak saya lebih menyukai ibu yang penyabar daripada ibu pemarah
  2. Mendengarkan setiap obrolannya dan berusaha fokus ketika Raihan mengajak ngobrol
  3. Memberi asupan gizi yang baik
  4. Tidak bermain gadget ketika Raihan mengajak bermain
  5. Mengajak Raihan bermain
  6. Menyiapkan DIY untuk Raihan bermain, minimal seminggu 3x, dari jam 9 sampai jam 12
  7. Mengajak Raihan jalan-jalan minimal dua minggu sekali
  8. Mengajarkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-hari, misal berdoa dan mengaji
  9. Tidak bermalas-malasan ketika bersama anak

Mungkin ini adalah indikator sementara, mengapa saya katakan sementara karena saya rasa peran seorang wanita amatlah banyak, ini hanya sebagian kecil yang saya tahu. saya hanya berharap sekecil apapun peran saya, saya ikhtiarkan sebaik mungkin. Saya ingin menjadi sosok wanita tangguh yang mampu menularkan kebaikan baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat.

semoga Allah senantiasa meridhoi tiap langkah kecil saya untuk berubah lebih baik, saya tahu saya tipe orang yang kurang bisa istiqomah tapi bismillah Allah pasti tahu niat saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. aamiin

Belajar Menjadi Ibu

Pada awalnya saya mengira pengalaman saya bertahun-tahun menjadi guru TK akan memberikan bekal yang cukup dalam mendidik anak saya kelak. Namun, pada kenyataannya saya merasa ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah tentang pendidikan anak usia dini, maupun kemampuan saya mendidik di taman kanak-kanak ternyata tidak seluruhnya membuat saya “lihai” mendidik putra tercinta.

Saya merasa, kembali memulai dari nol. Ternyata menjadi seorang ibu berarti siap menjadi seorang pembelajar. Saya paham sekarang mengapa ada ungkapan bahwa tidak akan kita dapatkan pelajaran menjadi seorang ibu di bangku sekolah.

Itulah yang membuat saya berkeinginan kuat belajar menjadi seorang ibu yang baik. belajar ilmu parenting. Saya merasa belum bisa mengelola hati dan mengelola waktu dalam mendidik anak. Kadang masih ada perasaaan bosan, marah, hampa dalam menemani buah hati. Naudzubillah, saya tidak mau semua zon dalam hati menjadikan saya ibu yang tidak layak.

Saya merasa harus belajar manajemen kalbu, mengelola hati. menumbuhkan semangat, rasa syukur dan rasa sabar ketika menjalani peran saya sebagai ibu. Menerima dengan ikhlas semua garis takdir yang telah Allah alamatkan kepada saya, berusaha berdamai dengan masa lalu. Karena ternyata menuntut ilmu haruslah dimulai dengan adab yang baik dahulu, salah satunya ikhlas dan membersihkan hati dari hal-hal buruk.

Untuk itu, strategi yang harus saya tempuh yaitu:

  1. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena Dia-lah yang menurunkan hidayah pada hati tiap hamba-Nya, tidak akan ada kebaikan tanpa kita libatkan Sang Pencipta dalam kehidupan
  2. Mengikuti kelas Matrikulasi dengan baik, menghayati dan berusaha mengaplikasikan setiap materi dengan baik.
  3. Membaca buku-buku positif baik berkaitan dengan ilmu parenting maupun ilmu bermanfaat lainnya
  4. Merencanakan pembelajaran bagi anak, terus mendengungkan kalimat dalam hati bahwa Gagal Merencanakan berarti Merencanakan Gagal
  5. Belajar dan terus belajar, baik dari seminar-seminar parenting, sharing dengan orang lain yang lebih pengalaman maupun membaca artikel-artikel terkait.
  6. Istiqomah dalam belajar, hal ini diperlukan karena peran sebagai ibu ialah peran seumur hidup yang hanya akan lepas ketika Allah memanggil kita

 

The Power Of Kepepet

Seseorang yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses, dalam prosesnya tentu menginginkan perjalanan yang mudah tanpa liku untuk sampai pada puncak kesuksesan. Namun, tidakkah Anda tahu bahwa perjalanan mulus tak selamanya memberi hasil yang signifikan. Ada kalanya onak dan duri lah yang membuat seseorang bergerak lebih hebat, ada kalanya saat-saat genting lah yang membuat seseorang mengeluarkan tenaga ekstra yang tak di duga. Jaya Setiabudi mengistilahkannya dengan “The Power Of Kepepet”

Apa itu The Power Of Kepepet? bagaimana pengaruhnya dalam perjalanan karir seseorang? Sedahsyat itukah kekuatan yang ditimbulkan?

Untuk Info Lebih Lanjut http://mall.yukbisnis.com/item/code/3e78fc7334db71556f4dd3736933744d

Doa Malam Ini

 

love_Allah_by_abdelghany

Doa Malam ini

Jika derap langkah ini senantiasa tertatih-tatih
ketika menjauhi perih
jika tangis ini kadang tenggelam dalam lautan khilaf
dan lupakan seketika kodrat
maka hanya berharap diriMu yang
menemani
memenuhi hati dengan
lautan cahaya surgawi..
berharap jalan yang kupilih
mendekatkanMu Ya Rabbi

Semoga kita senantiasa dapat menjadi jalan kebaikan bagi diri kita sendiri, bagi orang-orang yang kita cintai.. walaupun hanya Allah yang menyadari..

CERPEN AMPLOP COKLAT

AMPLOP COKLAT

Oleh Greeny Azzahra

dimuat di  Tribun Jabar Edisi Minggu, 3 Februari 2013

            Beberapa kali Sanusi menghela nafas seperti hendak melepas beban di dirinya, ujung matanya tak lepas dari amplop coklat yang tergeletak di meja kerjanya. Amplop coklat yang biasanya tidak pernah membawa kegundahan pada hatinya, amplop coklat yang sejatinya tidak pernah menarik perhatiannya. Tapi kini?

Sekali lagi pria itu menghela nafas, pikirannya menerawang jauh, mengingat bagaimana kondisi istri tercinta yang sudah sebulan ini mesti berbaring di rumah sakit karena kanker yang dideritanya, putri sulungnya yang baru saja masuk  perguruan tinggi serta kedua putranya yang masih duduk di bangku sekolah. Tentu tak sedikit biaya yang mesti ia keluarkan. Apalagi siang tadi dokter berkata bahwa istrinya harus segera melakukan operasi jika ingin selamat.

            Duh, Gusti. Rasanya semua itu terasa bagai batu yang mengganjal hatinya, sungguh menyesakan. Dan kini batu itu pun mulai mengusik nuraninya.

Dengan tangan bergetar, Sanusi membuka amplop coklat yang tadi siang ia terima. Perlahan, ia mulai mengeluarkan isi dari amplop tersebut. Sebenarnya ini kali pertama ia menyimpan amplop seperti ini, biasanya tanpa membuka isinya ia segera mengembalikan benda tersebut pada si pemberi.

            Bragghh..

Amplop tersebut jatuh dari tangannya beserta isi yang tercecer di lantai, terlihat 5 ikat tumpukan uang yang ia sendiri tidak tahu berapa, yang pasti jumlah tersebut belum pernah ia terima sebelumnya. Bergegas Sanusi merapihkan semua itu, dan meletakan amplop tersebut di laci meja kerjanya. Nampaknya ia tidak sanggup jika mesti menghitung jumlah uang yang kini kembali bersembunyi di dalam amplop coklat itu. Walaupun masih terngiang di telinganya pembicaraan tadi siang.

“Lima puluh juta, Pak.” Seorang pria berkumis menyodorkan sebuah amplop coklat yang menggelembung di meja kerjanya.

“Kalau Pak Sanusi tidak yakin, Bapak bisa menghitungnya kembali. Saya yakin uang itu bisa membantu biaya pengobatan istri Bapak.” Ucap pria itu kembali.

Agak tersentak Sanusi mendengar ucapan pria di depannya, bagaimana mungkin pria itu bisa mengetahui masalahnya? Ah, tapi ia kembali sadar bahwa bukan hal yang sulit mencari tahu kehidupan seseorang di zaman sekarang ini.

“Bapak tidak mesti mengambil keputusan sekarang, silahkan Bapak simpan dulu amplop tersebut. Dua hari lagi saya akan menghubungi Bapak sebelum sidang. Jika memang uang itu kurang, Bapak bisa menghubungi saya secepatnya.”

Belum sempat Sanusi menjawab, telepon di mejanya berdering. Dan mau tak mau ia mesti mengangkatnya. Tentu saja semua pembicaraan dengan dokter istrinya di telepon dapat didengar oleh pria berjas hitam tersebut. Setidaknya pasti pria itu dapat menangkap gurat kekhawatiran di wajahnya.

Pada akhirnya pembicaraan dengan dokter tadi siang membuat Sanusi mengambil keputusan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, yaitu mempertimbangkan amplop coklat yang ditawarkan padanya.

Duh Gusti, apa yang harus aku lakukan?! Beban yang mengganjal di hatinya kini luruh dalam bentuk air mata.

Ia kembali mengingat semua perjalanan hidupnya. Sebagai seorang hakim sebenarnya Sanusi bisa saja hidup berlimpah uang seperti sebagian rekan-rekan kerjanya yang lain. Tak sedikit tawaran menggiurkan yang disodorkan padanya, mulai dari mobil mewah, rumah mewah, ataupun dana cair seperti kali ini. Tapi ia sudah berkomitmen, jauh sebelum ia menjadi hakim, bahkan jauh sebelum ia masuk ke Perguruan Tinggi. Ia sudah memutuskan akan menjadi seorang penegak hukum yang jujur, yang amanah. Ia tidak mau orang lain merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan rumah hanya karena rekayasa hukum yang dibuat oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Sungguh menyakitkan jika Sanusi mengingat kenangan bagaimana ia dan ibunya mesti diusir secara paksa dari rumah yang mereka tinggali.

Bukan sekali dua kali ia mendapat ancaman bahkan teror atas semua komitmennya tersebut. Kalau bukan karena perlindungan-Nya, bisa saja ia telah kehilangan nyawa, meninggalkan anak istri tercinta. Atau sebaliknya ia yang akan bersedih kehilangan anak istri tercinta.

Sudahlah Sanusi, ambil saja tawaran ini. Toh kasus ini tidak melibatkan rakyat kecil? Hanya penyalahgunaan dana pajak! Rakyat kecil mana tahu urusan pajak! Hati kecil Sanusi bergumam.

Tapi tetap saja dana pajak itu seharusnya disalurkan kepada rakyat, bukan masuk pada kantong- kantong pejabat! Kali ini sisi hatinya yang lain berucap.

Sanusi bimbang. Semua seakan berkelebat di kepalanya, masa lalunya, pekerjaannya, kasus yang ditanganinya, tawaran tadi, keluarganya, dan istrinya. Ah, Lasmi apa yang harus aku lakukan? Dengan hati-hati ia mengambil foto yang terpajang di meja kerjanya. Foto yang diambil empat tahun lalu, ketika Sanusi dan keluarga menghabiskan waktu liburan di Yogyakarta. Tampak bahagia. Ayu ketika itu baru menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamanya, Raka masih duduk di bangku kelas lima, Ivan baru menginjak usia empat tahun. Dan Lasmi istrinya tampak mempesona saat itu, senyum manisnya terlihat indah, sama dengan ketika mereka pertama kali bertemu.

Namun, senyum manis itu kini sudah hampir satu bulan tidak dilihatnya, yang ada hanya tubuh yang tak berdaya yang terbaring lemah di rumah sakit. Mukanya pucat, tubuhnya sangat kurus. Sungguh membuat Sanusi merasa tecabik-cabik. Raganya seperti ikut teraniaya menyaksikan kondisi wanita yang dikasihinya itu.

Setelah divonis menderita kanker tiga tahun yang lalu, Sanusi mesti kerja keras untuk bisa membiaya pengobatan istrinya, walaupun ia memiliki asuransi kesehatan tetap saja banyak biaya yang mesti ia keluarkan. Bahkan ia mesti merelakan mobilnya untuk dijual. Tabungannya sudah banyak terkuras, dan saldonya tidak cukup banyak untuk membiaya operasi istrinya kali ini.Dan itu membuat Sanusi benar-benar bimbang. Apakah ia harus menyerah pada nasib dan membiarkan istrinya perlahan-lahan menjemput kematian? Ataukah Sanusi mesti menyerah pada komitmennya dan mengambil tawaran pihak terpidana tadi siang?

“Keputusan Ayah bagi Ibu selalu yang terbaik, karena itu Ibu selalu percaya pada semua keputusan Ayah.”

Terngiang suara lembut Lasmi setiap kali Sanusi meminta pendapat istrinya itu akan keputusan yang ia lakukan. Sanusi makin tergugu, tangisnya makin berderai, wajah istrinya tergambar jelas di matanya.

***

            Dua hari berlalu, pagi ini dirasakan Sanusi menjadi pagi yang terberat dalam hidupnya. Pukul 08.00 ia akan ke pengadilan, melakukan sidang perkara kasus yang ditanganinya. Dan tepat pukul satu siang ia mesti ke rumah sakit untuk menyerahkan uang pembayaran agar istrinya bisa melakukan operasi hari itu juga.

Sanusi meletakan amplop coklat dalam tas kerjanya, dengan tetap berusaha tersenyum ia menemani anak-anaknya sarapan pagi. Ivan berceloteh tentang pertandingan futsal yang ia menangkan kemarin. Ivan tidak tahu jika ibunya sedang mengalami masa kritis, sengaja Sanusi tidak memberitahu anak bungsunya itu, ia tidak tega untuk menceritakan hal tersebut. Cukup kedua kakaknya yang tahu, itu saja sudah dirasa berat bagi Sanusi, apalagi melihat keduanya tampak murung beberapa hari ini.

“Yu, insyaallah sehabis sidang Ayah langsung ke rumah sakit. Kamu duluan ke sana, ya? Tadi Ayah sudah menghubungi Bi Inah agar menjaga Ivan hari ini.” Ucap Sanusi pada putri sulungnya sebelum beranjak meninggalkan rumah.

Putrinya itu menjawab lirih sembari menganggukan kepala. Lalu dengan takzim ia mencium lembut tangan ayahnya. Agak lama ia melakukannya, bahkan Sanusi dapat merasakan hangat air mata yang membasahi punggung tangannya itu.

“Yang sabar Nak, adik-adikmu masih butuh semangat darimu.” Sanusi berusaha menguatkan putrinya. Walaupun sebenarnya ia juga ingin menangis. Sampai Sanusi menjalankan motornya, ia masih dapat melihat Ayu berdiri di depan pintu, melepas kepergian ayahnya itu.

Pukul 07.30. Begitu yang Sanusi lihat di jam tangannya saat memasuki pengadilan. Amplop coklat itu masih Sanusi pegang. Bahkan sampai ia menggunakan baju kebesarannya sebagai seorang hakim, ia masih bimbang untuk mengambil keputusan. Ia belum mengembalikan amplop tersebut pada sang empunya, atau mungkin ia tidak akan pernah mengembalikannya?? Jika itu terjadi, siang ini tentu istrinya dapat melakukan operasi.

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi, di layarnya tertulis nama seseorang. Nama pria yang menemuinya dua hari yang lalu.

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?!

Tepat pukul 08.00 Sanusi memasuki ruang sidang. Dan terlihat sebuah amplop coklat serupa masih berada di atas mejanya.

***

            “Bagaimana Yah??” ucap Ayu ketika melihat Sanusi datang ke rumah sakit.

“Ibumu bisa operasi hari ini, Yu.”

“Alhamdulillah!” gumam Ayu dengan pelupuk mata yang basah.

Sanusi pun kemudian menyerahkan amplop coklat pada petugas administrasi rumah sakit. Ia tampak mengisi beberapa berkas yang diberikan petugas tersebut. Ada kristal di matanya, tapi tak sampai meluncur ke pipinya. Hanya lirih terdengar beribu-ribu do’a dari mulutnya, untuk keselamatan Lasmi istri tercinta.

Di lobby rumah sakit, siaran TV menyiarkan sidang perkara penyalahgunaan pajak yang dilakukan oleh salah satu oknum perpajakan. Hakim memvonis hukuman penjara dalam waktu yang cukup lama dan denda besar bagi terpidana tersebut. Terdengar gemuruh takbir membahana di muka sidang.

Sesosok pria kurus yang memimpin sidang tersebut tersenyum, tampak ia telah melepas sebagian beban yang menghimpitnya. Walaupun karena itu kemudian ia mesti merelakan amplop coklat yang diberikan padanya dua hari lalu diamankan oleh pihak berwajib sebagai barang bukti, dan pada waktu yang sama ia pun mesti merelakan berkas-berkas rumahnya untuk digadaikan.

Berkas-berkas rumah yang ia masukan juga pada sebuah amplop coklat.

***

 

 

Rabbi

Rabbi..  inginku Engkau bawa daku menujuMu..
 
Bukan dengan jalan nista tapi dengan jalan surga..
 
Jika surga itu mesti kujangkau dengan airmata
 
Jika surga itu mesti kujangkau dengan sakit berjuta
 
Aku rido Rabb.. AKu Rido Rabb..
 
Asal tak Engkau tinggalkan aku..
 
Asal Engkau pegang erat diriku melewati semua ini..
 
Asal Engkau mau berbaik hati menuntun hatiku menuju jalan terbaik bagiMu
 
Iringi langkahku kumohon,, jangan biarkan aku tersesat lagi.. jangan biarkan aku memilih jalan yang keliru lagi..