Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sekilas Info’ Category

Mari bekerja di ladang-ladang amal kita yang sangat luas tanpa batas.

Silakan mencela bagi yang hobi mencela.

Silakan melaknat bagi yang gemar melakukannya.

Silakan berhenti dan menepi bagi yang sudah tidak memiliki kepercayaan lagi.

Sekecil apapun langkah kebaikan kita lakukan, pasti tetap menjadi kontribusi yang berarti bagi negeri.

Keyakinan ini tak bisa ditawar lagi.

Tuhan telah mengumandangkan, hal jaza-ul ihsan illal ihsan. Apakah kita tetap juga tidak memahami ?

Kita serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Mengerti.

Oleh Cahyadi Takariawan ( Sumber asli disini )

 

Sesungguhnyalah epos setiap pahlawan dan pejuang selalu menyimpan kisah-kisah kepedihan. Karena semua pahlawan, semua orang besar, tidak bisa menghindarkan diri dari keterbatasan dirinya yang tidak dimengerti publik.  Kebesaran nama dirinya telah menyihir opini masyarakat, seakan dia adalah manusia tanpa cela, serba sempurna dan serba tidak ada kekurangannya. Di titik ini, setiap pejuang ditempatkan secara terasing, di posisi yang tidak dia kehendaki.

Ada pejuang yang memilih menjaga citra diri dengan mencoba menjadikan dirinya sesuai harapan publik. Tentu ini tidak mudah. Dia adalah magnet bagi kamera media. Omongannya, responnya, perbuatannya, tindakannya, adalah sebuah berita. Semua mata memandang kepadanya, dimanapun ia berada. Tak ada ruang privat lagi bagi orang seperti dirinya. Media bisa masuk ke semua ruang-ruang pribadinya.

Dengan pilihan ini, ia harus menjadi seseorang seperti yang diharapkan publik. Bukan menjadi dirinya sendiri yang memiliki banyak keterbatasan. Namun ia harus menjadi hero, menjadi superman, menjadi seseorang yang selalu diidolakan semua kalangan masyarakat. Tak ada kesempatan bagi dirinya untuk menjadi dirinya sendiri, menjadi manusia biasa yang bisa menangis, bisa salah, bisa lupa, bisa khilaf, bisa berbuat dosa.  Dia dipaksa menjadi seseorang seperti harapan masyarakat terhadap sosok pahlawan dan pejuang. Bahwa para pahlawan selalu tampil elegan, tanpa cela, tanpa cacat. Sedikitpun.

Celakanya, para pemuja sosok pahlawan ini hampir tidak bisa membedakan mana sosok manusia biasa yang tengah berusaha menjadi pejuang atau pahlawan, dengan manusia pilihan yang Tuhan takdirkan menjadi Nabi. Bagi seorang Nabi utusan Tuhan, dirinya mendapatkan dukungan Ketuhanan secara penuh. Karena semua perkataan dan perbuatannya adalah hukum untuk diikuti oleh pemeluk agama sang Nabi. Berbeda dengan manusia yang lainnya, kendati dia adalah seseorang yang berusaha menempatkan diri dalam barisan para pejuang dan para pahlawan, namun tetap saja dia adalah manusia biasa.

Sebuah harapan yang berlebihan bahkan absurd. Saat dunia telah sangat lama ditinggalkan oleh Nabi terakhir, akhirnya menjadi defisit keteladanan dan contoh kebaikan. Dunia muak dengan kemunafikan dan kepura-puraan yang sering ditampakkan banyak aktor politik dan banyak pejabat publik. Masyarakat menghendaki dan mencoba mengidentifikasi tokoh-tokoh yang bisa menjadi sumber inspirasi dan keteladanan dalam kehidupan. Sangat langka. Begitu menemukan beberapa gelintir orang yang dianggap masih memiliki harapan untuk menjadi panutan, maka harapan mereka menjadi berlebihan dan tidak masuk akal.

Para pejuang ini telah dipajang dalam bingkai harapan yang sangat ideal. Tak boleh berdebu, mereka bersihkan setiap hari dengan puji-pujian dan sejuta doa. Para pejuang ini yang akan menjadi penyelamat bangsa, akan menjadi harapan perubahan bagi Indonesia. Sebuah obsesi yang lahir dari dahaga berkepanjangan akan munculnya sosok keteladanan dari para pahlawan. Sangat lama masyarakat menunggu para pahlawan yang akan mensejahterakan rakyat Indonesia dan membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, kelaparan, ketertinggalan dan keterbelakangan.

Para pejuang telah ditempatkan pada posisi yang mustahil melakukan kesalahan. Mereka tidak ditolerir memiliki kelemahan, bukan hanya untuk diri pribadinya. Namun juga bagi isteri, anak-anak dan semua keluarganya. Masyarakat mudah mengalami kekecewaan fatal bahkan keputusasaan apabila melihat ada kekurangan pada diri sang hero, atau pada isteri dan anak-anaknya. Keteladanan dituntut untuk selalu dipenuhi, bahkan oleh anak-anak yang tidak banyak mengerti beban orang tua mereka yang terlanjurkan diidolakan sebagai sosok pahlawan super. Isterinya harus super, anak-anaknya harus super, keluarga besarnya harus super. Betapa berlebihan tuntutan ini.

Namun ada pula para pejuang yang memilih menikmati menjadi dirinya sendiri apa adanya. Seorang manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan. Di tengah kelemahan dan keterbatasan diri, ia mencoba menjadi seseorang yang memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Memberikan kontribusi kebaikan sekuat kemampuan yang dia miliki. Waktu, tenaga, pikiran, harta benda dia curahkan untuk melakukan hal terbaik yang bisa dia sumbangkan bagi perbaikan bangsa dan negara. Mungkin tidak terlalu memuaskan masyarakat, mungkin tidak heroik, mungkin tidak dielu-elukan oleh para pemuja kepahlawanan. Namun ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Dia melihat dunia dengan dua kacamata pada saat bersamaan. Satu kacamata idealis, dia memiliki visi yang sangat jelas tentang hal-hal ideal yang harus dilakukan dan harus terjadi bagi bangsa dan negara. Satu lagi kacamata realis, bahwa dia melihat Indonesia tidak cukup diubah oleh keteladanan beberapa sosok pahlawan. Indonesia hanya memerlukan kebersamaan untuk melakukan perubahan, memerlukan konsistensi untuk menegakkan aturan, memerlukan kedisiplinan untuk menjalankan agenda kebangsaan dan kenegaraan. Indonesia memerlukan harmoni dari pagelaran orkestra berbangsa dan bernegara.

Dia tidak mau terkurung ke dalam sosok pahlawan ideal seperti yang digambarkan masyarakat. Benarkah perubahan Indonesia harus dimulai dari sosok-sosok profan yang tak memiliki sedikitpun kekurangan, cacat, kelemahan dan kesalahan ? Bukankah itu hanya layak dinisbatkan kepada para Nabi dan Rasul yang dimuliakan Tuhan dengan tugas-tugas Ketuhanan ? Dia merasa hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan perubahan ke arah kebaikan, semaksimal kemampuan yang dia miliki. Namun dia mengetahui ada sejumlah sisi-sisi kemanusiaan dalam dirinya yang akan sulit dipahami oleh publik.

Sering terbersit dalam kesendiriannya, apakah hanya ada dua pilihan menjalani kehidupan bagi bangsa Indonesia ? Pilihan menjadi pahlawan super hero yang dipuja-puja seluruh masyarakat, dan pilihan menjadi pecundang yang dicela oleh semua media, tanpa sisa ? Tidak adakah pilihan menjadi diri sendiri yang jujur apa adanya, menjadi seseorang yang penuh keteterbatasan dan kelemahan, namun selalu berusaha menyumbangkan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara ? Dimanakah tempat orang-orang seperti ini ? Apa nama dan nilai mereka ini ? Menjadi pahlawan ataukah pecundang ?

Menjadi super hero tanpa cela betapa sangat sulitnya. Siapa yang akan sanggup menempati posisi seperti ini, siapa yang akan merelakan dirinya berada dalam sebuah suasana pencitraan, untuk memenuhi harapan dahaga masyarakat akan sosok-sosok keteladanan ? Menjadi pejuang tanpa kelemahan dan kekurangan, betapa beratnya. Menjadi pahlawan tanpa sedikitpun tercemar oleh cela yang dilakukan oleh dirinya, isteri, anak-anak dan keluarga besarnya, siapa sanggup menempuhnya ? Inilah episode kepedihan setiap pahlawan dan pejuang.

Saya berusaha memilih sesuatu yang masuk akal dan sesuai hati nurani. Saya bukan seorang pahlawan, bukan seorang super hero, bukan seorang super man, atau semacam itu. Saya hanyalah seorang anak bangsa yang memiliki teramat sangat banyak kekurangan, kelemahan, keterbatasan dan hal-hal tidak ideal. Dari sudut pandang apapun. Namun saya sangat meyakini bahwa kebaikan besar bermula dari kebaikan-kebaikan kecil. Saya sangat meyakini hal-hal luar biasa bisa bermula dari konsistensi melakukan hal-hal yang biasa.

Terserah orang menyebut apa terhadap hal yang saya lakukan. Saya berjalan pada sebuah keyakinan, pada sebuah arah tujuan. Saya berjalan pada sebuah bingkai cita-cita perubahan, namun saya hanyalah seorang manusia yang penuh keterbatasan. Isteri saya hanyalah seorang perempuan biasa, sangat biasa, yang memiliki sangat banyak kekurangan. Anak-anak saya hanyalah anak-anak yang terlahir dari sejarah pernikahan, dan mereka menjadi dirinya yang tidak bisa dibebani dengan harapan orang atas ayah mereka. Namun dengan segala titik kelemahan dan kekurangan kemanusiaan tersebut, saya selalu berusaha melakukan hal-hal baik yang mampu saya lakukan. Memproduksi kebajikan semaksimal kesanggupan yang ada pada saya.

Tidak bolehkah memiliki pilihan sederhana seperti ini ? Haruskah kita memilih menjadi pahlawan tanpa cela, atau sekalian memilih menjadi pecundang yang dicela serta dilaknat seluruh media ? Sedih sekali hidup kita, jika terbelenggu oleh “apa kata orang kepada kita”. Sedih sekali, jika hidup kita harus menyesuaikan dengan selera media. Sempit sekali dunia, jika kita harus menjadi sosok-sosok utopis yang diimpikan para pemuja epos kepahlawanan dunia. Hingga orang tidak berani berbuat dan berkata apa-apa, karena takut dilaknat media. Hingga orang takut melakukan upaya perbaikan semampu yang dia bisa, karena takut dicela massa.

Setiap hari berseliweran sms, mengkonfirmasi berita ini dan itu di media massa. Mencela, melaknat, mencaci maki, menghakimi semau sendiri, memastikan keburukan orang, mengimani berita media massa tentang perilaku seseorang. Sms berseliweran tanpa tuan, menghakimi tanpa persidangan, memutuskan tanpa penjelasan, memastikan tanpa pertanyaan, menuduh tanpa kelengkapan persyaratan, membunuh karakter tanpa alasan. Semua orang ketakutan, semua orang gelisah, tiarap, takut dirinya tengah dirilis media. Takut dirinya tengah dibicarakan koran. Takut dirinya menjadi berita utama di sms yang berseliweran setiap detik, setiap kesempatan.

Seakan dunia telah kiamat, saat seseorang pejuang dituduh melakukan kesalahan. Seakan kebaikan telah hilang, saat sosok pahlawan yang diidamkan teropinikan melakukan pelanggaran. Hancur sudah dunia kepahlawanan, habis sudah sejarah para pejuang, tamat sudah riwayat para pembela kebenaran. Hari ini juga semua jiwa telah binasa. Kita menjadi orang yang berlebih-lebihan melihat, menanggapi, mengomentari segala sesuatu. Baru running text, baru rilis koran, baru kilas berita televisi dan cybermedia. Tiba-tiba sms sudah menyebar kemana-mana. Tiba-tiba kepercayaan sudah sirna. Tiba-tiba kehangatan sudah tiada. Berpuluh tahun kita merajutnya. Hilang sesaat begitu saja ?

Inilah sisi kepedihan dalam setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Setiap pahlawan, setiap pejuang selalu dihadapkan kepada kondisi-kondisi kemanusiaan yang sulit dimengerti para pemuja mereka. Media telah menghukum tanpa ampunan. Headline setiap hari. Heboh, bombastis, sinistis. Mematikan hati yang terlalu ciut menerima kritik dan lontaran tajam. Mematikan semangat yang terlampau dingin untuk melakukan berbagai kebajikan. Cita-cita dan tujuan seakan sudah terlupakan oleh opini koran dan berita harian.

Silakan tidur dan berhenti dari kebaikan, maka para setan akan pesta pora merayakan kemenangan. Silakan menyesal menempuh jalan panjang bernama kebajikan, tempuh jalan lain yang lebih menyenangkan pemberitaan. Hanya itukah tujuan kita ? Mendapat pujian, mendapat pengakuan, mendapat ucapan selamat dan penghargaan atas kesantunan, kesalehan, kebaikan, kejujuran, dan kebersihan  yang ditampilkan ? Tidak siap mendengar kritik tajam, caci maki, cemoohan masyarakat dan media massa ? Tidak kuat mendengar ledekan, tertawaan, gunjingan, dan kekesalan orang ?

Adakah anda rasakan kesedihan yang saya tuliskan ? Kesedihan di setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Kesedihan yang tidak bisa dibagi dengan para pemuja pahlawan. Kesedihan yang harus dikunyah dan dinikmati sendiri oleh setiap orang yang berjuang dalam kebaikan. Jika anda merasakan, saya ajak anda menyublimkan kesedihan itu menjadi sebuah karya nyata, sekecil apapun yang kita bisa.

Menyublimkan kepedihan menjadi amal kebaikan berkelanjutan yang kita lakukan dalam setiap tarikan nafas. Jangan menguapkannya, karena jika diuapkan kesedihan hanya akan hilang namun tidak menghasilkan karya. Ya, anda harus menyublimkan kepedihan ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Menjadi sesuatu yang menyemangati diri. Menjadi sesuatu yang menasihati. Menjadi sesuatu yang bernilai abadi. Menjadi sesuatu yang bernama kontribusi.

Setiap cemoohan dan ejekan akan menambah kesedihan di hati para pejuang. Setiap ketidakberhasilan akan menggoreskan kegetiran pada dada setiap pejuang. Kesedihan itu harus disublimasi menjadi karya yang berarti. Setiap hari kita telah terbiasa menumpuk kelelahan, kesedihan, kegetiran, kepedihan, dari yang terkecil hingga yang paling dalam. Menyublimkan kegetiran akan mengubahnya menjadi kerja nyata bagi bangsa dan negara. Apa artinya dipuji-puji jika tidak memiliki kontribusi yang berkelanjutan ? Apa salahnya dicaci maki jika itu memacu kontribusi yang lebih berarti bagi perbaikan ?

Mari bekerja di ladang-ladang amal kita yang sangat luas tanpa batas. Silakan mencela bagi yang hobi mencela. Silakan melaknat bagi yang gemar melakukannya. Silakan berhenti dan menepi bagi yang sudah tidak memiliki kepercayaan lagi. Sekecil apapun langkah kebaikan kita lakukan, pasti tetap menjadi kontribusi yang berarti bagi negeri. Keyakinan ini tak bisa ditawar lagi. Tuhan telah mengumandangkan, hal jaza-ul ihsan illal ihsan. Apakah kita tetap juga tidak memahami ?

Kita serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Mengerti.

 

Read Full Post »

Ada informasi menarik ketika menyaksikan berita di TV, pemerintah mengumumkan bahwa pertumbuhan perekonomian di Indonesia mengalami peningkatan yaitu sebesar kurang lebih 6%, suatu kebanggaan tersendiri bagi pemerintahan saat ini.

Namun di sisi lain, semua berita “membahagiakan” tersebut tak ikut dirasakan rakyat kecil. Mereka tak peduli dengan laju inflasi, indeks bursa saham, atau semua kemajuan yang dibicarakan para pemimpin negeri, karena mereka tak mengerti itu. Yang mereka tahu keadaan Indonesia sekarang ini masih jauh dari baik, harga pangan membumbung tinggi, lapangan pekerjaan begitu sulit ditemui, dan kemiskinan yang dirasa terus mendera.

Sebuah berita menayangkan tragedi mengenai orangtua yang kehilangan keenam orang anaknya karena memakan tiwul (sejenis olahan singkong)  beracun, dan mirisnya hal itu disebabkan karena orangtua tersebut tak mampu membeli beras untuk makan anak-anaknya. Lalu ketika menyaksikan salah satu tayangan TV tentang orang-orang pinggiran, terlihat jelas bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang mesti bersusah payah mengais rezeki hanya agar bisa memberi anaknya sesuap nasi.

Lalu sejauh mana pemerintah peduli dengan semua itu?

Ketika sebagian besar warga miskin Jakarta mesti hidup di kolong jembatan, para wakil rakyat tengah sibuk merencanakan pembangunan gedung WAKIL RAKYAT dengan fasilitas mewah (kafe, fitness area dan kolam renang) yang menghabiskan dana 1,7 Triliun !!

Ketika seorang warga Purwokerto mesti dijebloskan ke penjara karena mencuri gabah dengan alasan tak memiliki apa-apa lagi untuk dimakan, seorang koruptor kelas kakap Gayus Tambunan dapat dengan mudahnya melenggang bebas ke Bali hanya untuk sekedar menonton pertandingan tenis.

Ketika banyak dari TKW mesti kehilangan kebahagiaan, kebebasan, bahkan kehilangan nyawa hanya untuk mencari secercah harapan akan nasib yang lebih baik di luar negeri, para orang yang mengaku wakil rakyat dengan mudahnya berplesiran ke luar negeri untuk menghabiskan dana APBN.

Masya Allah, itulah Indonesia!  Kondisi di masyarakat dan pemberitaan di media saya rasa sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan realitas menyedihkan tersebut. L

Ah, padahal mayoritas pemimpin negeri kita mengaku sebagai umat muslim, tak adakah dari mereka yang membaca kisah hidup Rosulullah SAW? atau setidaknya meneladani Umar ra, yang rela menghabiskan malamnya untuk melihat kondisi rakyatnya.

Bukankah setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas setiap yang dipimpinnya?? 😥


Bandung, 19 Januari 2011

Ya Rabb, jangan biarkan aku seperti mereka yang mengaku wakil rakyat, yang meletakan dunia di hatinya..

letakanlah dunia di tanganku, agar dengannya dapat kugenggam hati orang-orang yang kesulitan, dan kuajak mereka menjauh dari kemiskinan yang mendera, hingga kelak senja tak memupus asa mereka..

Aminnn Yaa Rabb

 

 

Read Full Post »

Sengaja saya share kan kembali note di salah satu FB temennya temen,, sebuah note yang benar-benar menghentakkan hati saya, sungguh note yang memberi pelajaran berharga, semoga teman-teman berpikiran yang sama juga..

So, selamat membaca teman-teman, baca sampai beres yaa.. terutama yang merasa dirinya muslim 🙂


Sebenarnya artikel ini sangat menarik. Akan tetapi, ternyata sumber awal/asli dari artikel ini tidak jelas sumbernya.

Lihat —> http://bedtimestorie.blogspot.com/2009/02/who-fish-is-dr-stephen-carr-leon.html

Akan tetapi tetap menarik untuk kita baca sebagai tambahan informasi berharga dan pelajaran bagi kita.

Ada seorang pembaca Catatan ini yg menyarankan agar catatan ini menjadi bacaan wajib bagi bangsa Indonesia…

__________________________

_______________________________________

Bangsa Yahudi adalah salah satu bangsa yang menguasai dunia karena kecerdasan dan kelicikannya baik dari segi sains, bisnis, maupun teknologi.

Allah Ta’ala memang telah menganugrahkan kepada bangsa Yahudi suatu kelebihan berupa otak yang cemerlang. Dan sungguh sangat menarik mengetahui kenapa orang Yahudi begitu pintar dan mempunyai kelebihan dibanding bangsa-bangsa lain di atas dunia ini. Tentu saja dalam hal ini hanyalah sebatas kelebihan dalam hal urusan keduniawian…

“dan Facebook yang sedang kita gunakan ini pun adalah hasil karya mereka”…

Berikut ini sebuah artikel yang akan memaparkan sedikit sebab dari fenomena kelebihan mereka ini.

Marilah kita simak dengan seksama artikel di bawah ini, kemudian membahasnya bersama di kolom komentar dan jangan lupa mari kita SHARE / BAGIKAN agar saudara-saudara kita juga mempunyai kesempatan membaca artikel berharga ini.

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?”

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?
Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Persiapan Melahirkan
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.
Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.
Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”
Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.”
Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.
Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

Cara Makan
Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.
Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.
Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),”
ungkapnya.
Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.
Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. (Tambahan dari salah seorang pembaca : “…Menurut penelitian mengkonsumsi buah2an sesudah makan (cuci mulut) hanya enak di mulut tidak ada manfaatnya, benar2 hanya sebagai pencuci mulut, karena yang dicerna pertama kali adalah makanan utama. Saat giliran buah akan dicerna sebagian besar manfaatnya sudah membusuk/menguap…”) Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

ROKOK
Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.

Makanan
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).
Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.
Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak.
Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

1 – 6 SD
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !” katanya.
Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Sekolah Menengah – Perguruan Tinggi
Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.
Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya.
Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!
Anda terperanjat?
Itulah kenyataannya.

Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan.. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

PENDIDIKAN ANAK DI PALESTINA
Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.
Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.
Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran.
Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.
Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.
Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.
Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.
Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.
Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok?!”
kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.
“Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu.
Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asap rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!!
“Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?”

Majalah Sabili

Dicopy dari :
Postingan Indah novianti di :

Tambahan :

* Jika ada buah, mendahulukan makan buah sebelum makan berat adalah sesuai dengan sunnah/cara makan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam.
* Memanah, berkuda, dan berenang adalah olahraga yang paling dianjurkan oleh Rasulullah Sallalahu ‘alaqihi wasallam kepada ummatnya.
* Untuk ibu yang sedang mengandung, sangat dianjurkan untuk sering membaca atau mendengarkan Al-Qur’an.

Yahudi dan Babi

Setelah diedit
Wah ternyata pada tulisan saya ini sebelum di-edit, saya benar-benar salah paham dan salah informasi tentang kebiasaan orang yahudi memakan babi. Ternyata orang yahudi juga sama dengan orang Islam, yaitu tidak memakan Babi…
Jazakumullahu Khoiran akhi Arlinda Herman ‘Jr atas koreksinya.

Yahudi dan ROKOK

Sebagaimana kita telah baca dalam artikel diatas, rokok adalah barang yang tabu bagi mereka. Akan tetapi tahukah anda Philip Morris adalah seorang Yahudi, adalah pemilik perusahaan rokok yang telah menguasai 50% pasar rokok di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, HM Sampoerna adalah termasuk milik Philip Morris.

Jadi apa yang bisa anda banggakan wahai perokok???

Wallahu ‘alam

Read Full Post »

Assalamu’alaykum.Wr. Wb.

Alhamdulillah, ada kabar baik bagi seluruh kawan kawan pecinta dunia baca tulis dimanapun, khususnya di Bandung, Jawa Barat. InsyaALLAH acara PULPEN 2010 yang semula berbandrol kontribusi peserta : Rp 10.000 telah diketok palu menjadi GRATIS!!
Sekali lagi, GRATIS !!

Hal ini tentunya tak lepas dari dukungan dari berbagai pihak, diantaranya:

# Panitia PULPEN 2010 & FLP Bandung # Penerbit Bentang Pustaka # Pro-U Media # Be Mall # Be Jazz # Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jawa Barat # Saung Angklung Udjo # MQ FM # Tribun Jabar # Ron 88 # Kang Irfan Hidayatullah # Mbak Izzatul Jannah # Kang Ali Muakhir # Dan pihak pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu 🙂

Panitia juga masih menerima berbagai bentuk donasi maupun kerja sama yang memungkinkan untuk diusahakan. Anda yang berminat, dapat menghubungi / mentransfer ke:

Eko (081361249783)
Bank Jabar Syariah : 0000 433 632 999
Atas Nama : Forum Lingkar Pena Bandung

Selain penampil penampil yang sudah sempat beberapa kali kami sebutkan, acara ini juga akan dimeriahkan oleh penampilan penampilan luar biasa dari :
# Kapak Ibrahim
# Zyra
# Matdon, Majelis Sastra Bandung
# Langgeng, Apresiasi Sastra

Jadi, untuk apa melewatkan acara yang sangat seru dan bermanfaat ini?
Sampai saat ini sudah sekitar 100 orang yang mendaftarkan diri. Sebelum kehabisan ruang, sebaiknya daftarkan diri segera ke Rani (081394482589) !!

Sekedar mengingatkan, dalam acara ini nanti, kita dapat:
# Bertemu dan berinteraksi langsung dengan penulis penulis favoritmu, ada Tasaro GK, Topik Mulyana, Salim A Fillah, Solikhin Abu Izzudin, Hermawan Aksa, dan masih banyak lagi
# Ada juga perempuan nomor 1 Se Jawa Barat, Ibu Hj. Netty Heryawan yang akan memberikan pesan untuk kita semua.
# Selain itu, akan hadir juga team Pro-U beserta CEOnya, mudah mudahan kita dapat sharing seputar proses kreatif dalam membaca, menulis, bahkan menerbitkan buku di PRO-U.
# Kita juga akan membedah buku terbarunya Salim A Fillah (Dalam Dekapan Ukhuwah), Solikhin Abu Izzudin (Happy Ending Full Barokah), dan Novel Fenomenal dari Tasaro GK (Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan) yang menjadikan Shiroh Rasulullah yang kita cintai, menjadi senikmat dan selezat novel.
# Kita juga akan mengenal lebih dekat dengan FLP Bandung. Wah kalau yang ini, kayanya jadi kudu, harus wajib nih, buat yang mau pada gabung ke FLP Bandung 😀
# Kita juga akan dihibur oleh penampilan penampilan seni diatas
# Belum lagi, ada bazar buku dan tiket pelatihan menulis dengan harga khusus juga…….
# Dan……… maaaaasih banyak lagi 😀

oh ya, JANGAN LUPA !!
Acaranya hari Ahad, 14 Maret 2010 pukul 09.00-17.30
di Food Court (lt. 3A) Be Mall. Jl Naripan No. 89.
Semuanya harus diajak!!
konfirmasi ke Rani (081394482589) SEKARANG JUGA !!
😉

Read Full Post »

##################
PULPEN 2010 FLP BANDUNG
Kumpul Penulis, Kumpul Pena

##################

Ada apa aja ?
#########

= OPEN RECRUITMEN FLP BANDUNG
= Bedah buku terbaru Tasaro GK, “Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan”.
= Bedah buku terbaru Salim A Fillah, “Dalam Dekapan Ukhuwah”;
= Bedah buku terbaru Solikhin Abu Izzudin, “Happy Ending Full Barokah”;
= Talkshow “Ayo, membaca, menulis, dan menerbitkan buku!” bersama PRO-U Media;
= Puncak Acara : Tausiyah “Bacalah Sejarah dan Tuliskan Peradaban!” oleh Hj. Netty Prasetiyani Heryawan, M.Si


Ada siapa aja ?
##########

= Hj. Netty Prasetiyani Heryawan, M.Si
Pembina Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca, Ketua Dekranasda Jawa Barat, Ketua PKK Jawa Barat.

= Para pengurus dan anggota Forum Lingkar Pena Bandung.

= Tasaro GK
lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009).

= Topik Mulyana
Lulusan Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran yang kini menjadi sastrawan sekaligus akademisi. Beliau juga pernah menjabat sebagai ketua Forum Lingkat Pena Bandung dan juga pernah menjabat sebagai editor di Syamil Media yang kini berubah nama menjadi Sygma.

= Muhammad Fanni Rahman
CEO Penerbit Pro-U Media. Perusahaan penerbitan yang buku-bukunya tengah digandrungi para remaja Islam, dan sebagian besar berhasil menjadi buku best seller.

= Solikhin Abu Izzudin.
Trainer sekaligus motivator yang lebih akrab di kalangan remaja Islam dengan sebutan Solikhin “Zero To Hero” Abu Izzudin ini telah mengeluarkan banyak buku yang bermanfaat dan tak jarang pula buku-bukunya menjadi best seller dalam penjualannya. Buku-buku yang sempat dia tulis, antara lain: Zero To Hero, Way To Win, New Quantum Tarbiyah, dan The Great Power Of Mother.

= Salim A Fillah
seorang penulis muda produktif yang hampir seluruh bukunya merupakan Best Seller. Diantaranya adalah, Gue Never Die, Agar Bidadari Cemburu Padamu, Barakallahu laka : Bahagianya Merayakan Cinta, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, dan Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Beliau merupakan salah satu penulis muda yang memiliki ratusan, bahkan mungkin ribuan pembaca setia di seluruh tanah air.

Kapan, Dimana ?
###########

Be Mall
Jl. Naripan no.89
Ahad, 14 Maret 2010
Pukul 09.00 – 17.30

Siapa aja yang boleh datang ?
###################

Acara ini TERBUKA UNTUK UMUM
& WAJIB Bagi seluruh calon anggota FLP Bandung
Kontribusi Peserta : Rp 10.000

.::Konfirmasi peserta ke Rani (081394482589)::.

Donasi & Kerja Sama:
##############

Eko (081361249783)
Bank Jabar Syariah : 0000 433 632 999
Atas Nama : Forum Lingkar Pena Bandung



Read Full Post »

Intifadhah

intifadhah.Sebenarnya apa intifadhah ini? Apa artinya bagi orang Palestina dan umat Islam sedunia?

Sejarah Intifadhah

Tanggal 9 Desember 1987 menjadi hari yang tak terlupakan di bumi Palestina. Hari itu, meletuslah sebuah perang perlawanan terhadap Zionis Israel. Semua yang ada di Palestina merapatkan barisan, menjadi satu shaff, tua muda, laki-laki dan sebagian perempuan. Media menyebut waktu itu sebagai “Pertempuran terdahsyat sejak proklamasi negara Zionis Israel tahun 1948.”

Intifadhah sendiri dalam bahasa Arab berarti “bangun mendadak dari tidur atau dari keadaan tak sadar”. Hebatnya, pada Intifadhah yang pertama kali meletus, Palestina berperang tanpa persenjataan dan tanpa dibantu negara-negara Arab tetangganya.

Satu-satunya senjata yang kemudian menjadi legenda dan terkenal bahkan sampai kini, juga dijadikan sebagai salah satu ikon perlawanan Palestina terhadap penjajah Yahudi, adalah batu. Tidak heran jika anak-anak Palestina kemudian selama bertahun-tahun sampai kini dikenal dengan sebutan “Children of Stone” atau anak-anak batu.

Sehari sebelum meletus Intifadhah pertama, sebuah truk militer Israel masuk ke wilayah pengungsi Palestina di Jabalya, di Gaza. Seperti layaknya semua hal yang berbau Israel, truk ini masuk tanpa tujuan yang jelas, kecuali menyerang orang Palestina. Empat orang terbunuh. Bersamaan dengan itu, Yahudi pun bersikeras merebut Masjidil Aqsa atau Yerusalem Timur.

Karena kebiadaban Israel yang sudah mengakumulasi, semua orang Palestina berdiri saat itu. Ada momen yang membuat mereka harus segera menyelesaikan urusannya dengan Israel yang tak punya rasa kemanusiaan. Pada 9 Desember, pagi yang sepi dan dingin, kemudian berubah menjadi teriakan takbir di seantero Palestina.

Di Gaza, Israel memperparah keadaan, karena di tanggal 18 Desember, serdadu-serdadunya membunuh 2 orang dan melukai 20 orang Muslim yang baru selesai shalat Jumat. Para serdadu itu kemudian melanjutkan keganasannya dengan menyerbu Rumah Sakit Syifa, memukuli para doktor dan perawat dan menyeret orang-orang Palestina yang dirawat karena terluka dalam insiden shalat Jumat. Beberapa stasiun televisi menyiarkan gambar tetnara Israel bersenjata berat memukuli dan membunuhi warga Palestina. Dunia internasional mengecam tindakan kejam Israel, namun tidak ada yang berbuat kongkret dalam menyikapi negara Zionis itu.

19 Januari 1988 Menhan Rabin mengumumkan kebijakan baru yang dinamai “Tulang-tulang Patah”. Yitzhak Shamir, perdana menteri Israel waktu itu, menyatakan, “Tugas kita sekarang adalah untuk membangun lagi dinding ketakutan antara orang-orang Palestina dan militer Israel.”

Dalam waktu tiga hari sesudah pengumuman itu, 197 warga Palestina dirawat di beberapa rumah sakit karena mengalami patah tulang yang parah. Kelompok-kelompok HAM Palestina melaporkan, sejak dimulainya Intifadhah sampai akhir tahun 1993, para serdadu Israel dan pemukim Yahudi telah membunuh rakyat Palestina sebanyak 1.283 orang. Diperkirakan 130.472 mengalami luka-luka, 481 orang diusir, 22.088 dipenjara tanpa pengadilan, 2.533 rumah dihancurkan atau diambil alih, serta 184,257 batang pohon di kebun-kebun rakyat Palestina ditebang oleh serdadu Israel.

Intifadhah Pertama dianggap selesai pada 13 September 1993, ketika Perjanjian Oslo ditandantangani dalam sebuah upacara meriah di pekarangan selatan Gedung Putih. PM Israel Yitzhak Rabin dan Ketua PLO (Palestine Liberation Organisation) Yasser Arafat bersalaman disaksikan Presiden AS Bill Clinton.

Belum genap tiga tahun, Perjanjian itu sudah dianggap mati, ditandai kebijakan agresif perdana menteri Israel yang waktu itu terpilih, Benyamin Netanyahu. Ketika Perdana Menteri Ariel Sharon, menginjakkan kaki ke Masjidil Aqsa tahun 2000, dunia menyaksikan Intifadhah Kedua meletus.

Bukan Hanya Persoalan Palestina

Sesungguhnya, apa yang terjadi di Palestina sekarang bukan hanya persoalan bangsa Palestina belaka. Jika berhubungan dengan Islam, maka jelas umat sudah seharusnya memperhatikan apa yang ada di sana. Al-Quds adalah rumah bagi Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama kaum Muslimin dan bangunan paling suci ketiga setelah Ka’bah di Makkah dan Mesjid Nabi Muhammad di Madinah, Arab Saudi. Maknanya telah diperkuat oleh kejadian Al Isra’a dan Al Mi’raj.

Jika lebih luas lagi, jika menyangkut isyu HAM, maka dunia internasional sudah seharusnya melihat dengan mata bersih: bahwa penjajahan di atas dunia ini masih berlaku, yaitu Israel terhadap Palestina. Bukti apa lagi yang kurang? Sekarang, Palestina hanya tinggal mempunyai semangat dan batu untuk melawan Israel.

Lantas, sekarang apakah Intifadhah ketiga akan segera hidup? Rakyat Palestina sudah terlalu lama menderita dalam penjajahan, sementara dunia Islam dan negara-negara Arab bungkam seribu bahasa. (sa/berbagaisumber)

Read Full Post »

Senin, 07/12/2009 13:18 WIB

Dari jantung sebuah desa di kota Wajir Kenya yang merupakan wilayah yang didominasi oleh umat Islam, suara-suara para siswa Al-Quran melantunkan ayat-ayat suci – bergema di seluruh pemukiman.

“Ini sistem tradisional pendidikan Islam yang kembali ke zaman Nabi yang kita cintai (SAW),” kata guru Moalim Nur Osman kepada IslamOnline.net.

“Kami merasa hal ini telah memainkan prestasi luar biasa dalam me-mentoring pemuda Muslim untuk menentukan takdir mereka dan untuk ambil bagian dalam penyebaran Islam.”

Sekolah Al-Quran, yang dikenal sebagai Dugsi, kebanyakan ditempatkan di bawah struktur dan para siswa mendalami Al-quran dalam lingkaran studi yang sangat populer di masjid-masjid.

Bahan untuk belajar terbuat dari produk yang tersedia. Arang misalnya – dihancurkan untuk dijadikan tinta hitam yang dipakai untuk menulis.

Ketika IOL mengunjungi Dugsi, Ustadz Osman duduk di kursi tradisional kecil dengan lebih dari 70 siswa yang belajar dalam kelompok – untuk mendorong interaksi dan hubungan interpersonal diantara mereka.

“Selama bertahun-tahun, Dugsi tetap berjalan dengan cara yang sederhana namun telah membentuk sebuah lingkungan yang sangat antusias untuk menghafal Al-Quran, yang merupakan landasan bagi pendidikan Islam,” kata Osman.

“Kegiatan ini akan memakan waktu minimal tiga tahun bagi seorang anak untuk menyelesaikan menghafal seluruh Quran, hal ini akan membentuk kehidupan para siswa di masa mendatang, mereka akan menjadi orang yang lebih relijius dan taat dalam beragama.”

Sekolahnya telah berjalan lebih dari 30 tahun dan telah membentuk banyak anak-anak di desa untuk mempelajari dasar-dasar Islam.

Para siswa baik anak laki-laki maupun perempuan dengan bermandikan keringat yang turun dari dahi mereka tetap semangat belajar untuk menghafal Al-quran selama empat jam – dengan membaca ayat-ayat suci Al-quran yang tertulis di sebuah papan kayu yang bertulis ayat-ayat Quran.

“Perjuangan di sini adalah untuk pertama kali mempelajari Kitab Suci Al-quran,” kata Ahmed Ali, 13, salah seorang siswa.

“Kami mengambil pelajaran Al-Quran dua kali sehari.”

Dugsi adalah fondasi dari sistem pendidikan Islam yang berkembang di banyak bagian Timur Laut Kenya yang sebagian besar dihuni oleh umat Islam Sunni Somalia.

Sejarawan Islam mengatakan sekolah-sekolah khas Somali Dugsi sudah ada di Timur Tengah dan Afrika sejak abad ke-7 Masehi.

Dan ini berasal dari akar sejarah yang dapat ditelusuri kembali ke Saudi Arabia dan praktik pendidikan Nabi Muhammad (SAW).

Mengisi Kesenjangan

Dalam ketiadaan dana negara untuk mendukung pendidikan Islam, masyarakat Somali di sini mengambil peran untuk mendidik anak-anak mereka sendiri.

“Dugsi adalah cara informal yang paling dapat diandalkan untuk mengajarkan agama Islam di kalangan masyarakat miskin,” kata Syaikh Abdulwahab Syaikh Issack, seorang pejabat dari Dewan Imam dan Da’i Kenya, kepada IOL.

“Dugsi menawarkan akses yang lebih murah untuk pendidikan, khususnya untuk belajar Islam.”

Sekolah Quran telah membentuk sebuah ceruk untuk dirinya sendiri dalam pemetaan nilai-nilai Islam.

Selain menawarkan pengajaran yang mendasar dan efisien, baik pelajaran Al-Quran dan bahasa Arab, sekolah ini juga sebagai elemen kritis untuk mentransfer nilai dan sosialisasi Islam.

Dugsi menyediakan pendidikan Islam bagi anak-anak, sehingga dapat mengisi pemahaman keagamaan yang jelas dan peran sosial mereka dalam masyarakat, dan selanjutnya mereka akan bertindak sebagai agen dan pelestarian perubahan.

“Tujuannya jelas adalah untuk mengatasi kekurangan dalam pelajaran agama,” kata Osman, yang juga seorang guru.

Dan bahkan sebagai bentuk baru dari menyebarkan pengetahuan Islam – Dugsi mendapatkan momentum dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pendidikan yang lebih formal seperti Madarasas, yang tetap menaruh Dugsi sebagai bagian dari sistem pendidikan.

“Kami mengantisipasi bahwa sistem Dugsi akan berada di sini selama-lamanya,” kata Sheikh Mohamed Abdi, seorang guru Dugsi lain.

Dia mengutip dukungan masyarakat untuk sekolah-sekolah tradisional dengan guru-guru Dugsi yang bekerja sepenuhnya secara gratis atau kadang-kadang memungut sedikit biaya per siswa.

Dengan jumlah yang sangat banyak bagi orang Somalia yang mampu membaca dan menjadi hafizh quran 30 juz adalah merupakan kesaksian tentang keberhasilan pendidikan model Dugsi.

“Kita bisa menghubungkan peran Dugsi ini karena setiap anak di masyarakat kami harus melewati dan belajar di Dugsi, ini adalah tahap pertama yang akan dialami setiap anak disini,” kata Shaikh Issack.

Bagi para siswa, Dugsi adalah batu loncatan untuk lebih lanjut memperdalam pengetahuan Islam yang akan memberi mereka kesempatan untuk membentuk karier Islam mereka.

“Saya ingin menjadi seorang Qadhi,” kata seorang Mohamed Ali (13 tahun).

“Saya harus belajar Quran itu sebabnya saya harus tetap menghadiri pendidikan di Dugsi di sini.”(fq/iol)

http://eramuslim.com

Read Full Post »

Older Posts »