Feeds:
Pos
Komentar

The Power Of Kepepet

Seseorang yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses, dalam prosesnya tentu menginginkan perjalanan yang mudah tanpa liku untuk sampai pada puncak kesuksesan. Namun, tidakkah Anda tahu bahwa perjalanan mulus tak selamanya memberi hasil yang signifikan. Ada kalanya onak dan duri lah yang membuat seseorang bergerak lebih hebat, ada kalanya saat-saat genting lah yang membuat seseorang mengeluarkan tenaga ekstra yang tak di duga. Jaya Setiabudi mengistilahkannya dengan “The Power Of Kepepet”

Apa itu The Power Of Kepepet? bagaimana pengaruhnya dalam perjalanan karir seseorang? Sedahsyat itukah kekuatan yang ditimbulkan?

Untuk Info Lebih Lanjut http://mall.yukbisnis.com/item/code/3e78fc7334db71556f4dd3736933744d

Doa Malam Ini

 

love_Allah_by_abdelghany

Doa Malam ini

Jika derap langkah ini senantiasa tertatih-tatih
ketika menjauhi perih
jika tangis ini kadang tenggelam dalam lautan khilaf
dan lupakan seketika kodrat
maka hanya berharap diriMu yang
menemani
memenuhi hati dengan
lautan cahaya surgawi..
berharap jalan yang kupilih
mendekatkanMu Ya Rabbi

Semoga kita senantiasa dapat menjadi jalan kebaikan bagi diri kita sendiri, bagi orang-orang yang kita cintai.. walaupun hanya Allah yang menyadari..

CERPEN AMPLOP COKLAT

AMPLOP COKLAT

Oleh Greeny Azzahra

dimuat di  Tribun Jabar Edisi Minggu, 3 Februari 2013

            Beberapa kali Sanusi menghela nafas seperti hendak melepas beban di dirinya, ujung matanya tak lepas dari amplop coklat yang tergeletak di meja kerjanya. Amplop coklat yang biasanya tidak pernah membawa kegundahan pada hatinya, amplop coklat yang sejatinya tidak pernah menarik perhatiannya. Tapi kini?

Sekali lagi pria itu menghela nafas, pikirannya menerawang jauh, mengingat bagaimana kondisi istri tercinta yang sudah sebulan ini mesti berbaring di rumah sakit karena kanker yang dideritanya, putri sulungnya yang baru saja masuk  perguruan tinggi serta kedua putranya yang masih duduk di bangku sekolah. Tentu tak sedikit biaya yang mesti ia keluarkan. Apalagi siang tadi dokter berkata bahwa istrinya harus segera melakukan operasi jika ingin selamat.

            Duh, Gusti. Rasanya semua itu terasa bagai batu yang mengganjal hatinya, sungguh menyesakan. Dan kini batu itu pun mulai mengusik nuraninya.

Dengan tangan bergetar, Sanusi membuka amplop coklat yang tadi siang ia terima. Perlahan, ia mulai mengeluarkan isi dari amplop tersebut. Sebenarnya ini kali pertama ia menyimpan amplop seperti ini, biasanya tanpa membuka isinya ia segera mengembalikan benda tersebut pada si pemberi.

            Bragghh..

Amplop tersebut jatuh dari tangannya beserta isi yang tercecer di lantai, terlihat 5 ikat tumpukan uang yang ia sendiri tidak tahu berapa, yang pasti jumlah tersebut belum pernah ia terima sebelumnya. Bergegas Sanusi merapihkan semua itu, dan meletakan amplop tersebut di laci meja kerjanya. Nampaknya ia tidak sanggup jika mesti menghitung jumlah uang yang kini kembali bersembunyi di dalam amplop coklat itu. Walaupun masih terngiang di telinganya pembicaraan tadi siang.

“Lima puluh juta, Pak.” Seorang pria berkumis menyodorkan sebuah amplop coklat yang menggelembung di meja kerjanya.

“Kalau Pak Sanusi tidak yakin, Bapak bisa menghitungnya kembali. Saya yakin uang itu bisa membantu biaya pengobatan istri Bapak.” Ucap pria itu kembali.

Agak tersentak Sanusi mendengar ucapan pria di depannya, bagaimana mungkin pria itu bisa mengetahui masalahnya? Ah, tapi ia kembali sadar bahwa bukan hal yang sulit mencari tahu kehidupan seseorang di zaman sekarang ini.

“Bapak tidak mesti mengambil keputusan sekarang, silahkan Bapak simpan dulu amplop tersebut. Dua hari lagi saya akan menghubungi Bapak sebelum sidang. Jika memang uang itu kurang, Bapak bisa menghubungi saya secepatnya.”

Belum sempat Sanusi menjawab, telepon di mejanya berdering. Dan mau tak mau ia mesti mengangkatnya. Tentu saja semua pembicaraan dengan dokter istrinya di telepon dapat didengar oleh pria berjas hitam tersebut. Setidaknya pasti pria itu dapat menangkap gurat kekhawatiran di wajahnya.

Pada akhirnya pembicaraan dengan dokter tadi siang membuat Sanusi mengambil keputusan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, yaitu mempertimbangkan amplop coklat yang ditawarkan padanya.

Duh Gusti, apa yang harus aku lakukan?! Beban yang mengganjal di hatinya kini luruh dalam bentuk air mata.

Ia kembali mengingat semua perjalanan hidupnya. Sebagai seorang hakim sebenarnya Sanusi bisa saja hidup berlimpah uang seperti sebagian rekan-rekan kerjanya yang lain. Tak sedikit tawaran menggiurkan yang disodorkan padanya, mulai dari mobil mewah, rumah mewah, ataupun dana cair seperti kali ini. Tapi ia sudah berkomitmen, jauh sebelum ia menjadi hakim, bahkan jauh sebelum ia masuk ke Perguruan Tinggi. Ia sudah memutuskan akan menjadi seorang penegak hukum yang jujur, yang amanah. Ia tidak mau orang lain merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan rumah hanya karena rekayasa hukum yang dibuat oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Sungguh menyakitkan jika Sanusi mengingat kenangan bagaimana ia dan ibunya mesti diusir secara paksa dari rumah yang mereka tinggali.

Bukan sekali dua kali ia mendapat ancaman bahkan teror atas semua komitmennya tersebut. Kalau bukan karena perlindungan-Nya, bisa saja ia telah kehilangan nyawa, meninggalkan anak istri tercinta. Atau sebaliknya ia yang akan bersedih kehilangan anak istri tercinta.

Sudahlah Sanusi, ambil saja tawaran ini. Toh kasus ini tidak melibatkan rakyat kecil? Hanya penyalahgunaan dana pajak! Rakyat kecil mana tahu urusan pajak! Hati kecil Sanusi bergumam.

Tapi tetap saja dana pajak itu seharusnya disalurkan kepada rakyat, bukan masuk pada kantong- kantong pejabat! Kali ini sisi hatinya yang lain berucap.

Sanusi bimbang. Semua seakan berkelebat di kepalanya, masa lalunya, pekerjaannya, kasus yang ditanganinya, tawaran tadi, keluarganya, dan istrinya. Ah, Lasmi apa yang harus aku lakukan? Dengan hati-hati ia mengambil foto yang terpajang di meja kerjanya. Foto yang diambil empat tahun lalu, ketika Sanusi dan keluarga menghabiskan waktu liburan di Yogyakarta. Tampak bahagia. Ayu ketika itu baru menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamanya, Raka masih duduk di bangku kelas lima, Ivan baru menginjak usia empat tahun. Dan Lasmi istrinya tampak mempesona saat itu, senyum manisnya terlihat indah, sama dengan ketika mereka pertama kali bertemu.

Namun, senyum manis itu kini sudah hampir satu bulan tidak dilihatnya, yang ada hanya tubuh yang tak berdaya yang terbaring lemah di rumah sakit. Mukanya pucat, tubuhnya sangat kurus. Sungguh membuat Sanusi merasa tecabik-cabik. Raganya seperti ikut teraniaya menyaksikan kondisi wanita yang dikasihinya itu.

Setelah divonis menderita kanker tiga tahun yang lalu, Sanusi mesti kerja keras untuk bisa membiaya pengobatan istrinya, walaupun ia memiliki asuransi kesehatan tetap saja banyak biaya yang mesti ia keluarkan. Bahkan ia mesti merelakan mobilnya untuk dijual. Tabungannya sudah banyak terkuras, dan saldonya tidak cukup banyak untuk membiaya operasi istrinya kali ini.Dan itu membuat Sanusi benar-benar bimbang. Apakah ia harus menyerah pada nasib dan membiarkan istrinya perlahan-lahan menjemput kematian? Ataukah Sanusi mesti menyerah pada komitmennya dan mengambil tawaran pihak terpidana tadi siang?

“Keputusan Ayah bagi Ibu selalu yang terbaik, karena itu Ibu selalu percaya pada semua keputusan Ayah.”

Terngiang suara lembut Lasmi setiap kali Sanusi meminta pendapat istrinya itu akan keputusan yang ia lakukan. Sanusi makin tergugu, tangisnya makin berderai, wajah istrinya tergambar jelas di matanya.

***

            Dua hari berlalu, pagi ini dirasakan Sanusi menjadi pagi yang terberat dalam hidupnya. Pukul 08.00 ia akan ke pengadilan, melakukan sidang perkara kasus yang ditanganinya. Dan tepat pukul satu siang ia mesti ke rumah sakit untuk menyerahkan uang pembayaran agar istrinya bisa melakukan operasi hari itu juga.

Sanusi meletakan amplop coklat dalam tas kerjanya, dengan tetap berusaha tersenyum ia menemani anak-anaknya sarapan pagi. Ivan berceloteh tentang pertandingan futsal yang ia menangkan kemarin. Ivan tidak tahu jika ibunya sedang mengalami masa kritis, sengaja Sanusi tidak memberitahu anak bungsunya itu, ia tidak tega untuk menceritakan hal tersebut. Cukup kedua kakaknya yang tahu, itu saja sudah dirasa berat bagi Sanusi, apalagi melihat keduanya tampak murung beberapa hari ini.

“Yu, insyaallah sehabis sidang Ayah langsung ke rumah sakit. Kamu duluan ke sana, ya? Tadi Ayah sudah menghubungi Bi Inah agar menjaga Ivan hari ini.” Ucap Sanusi pada putri sulungnya sebelum beranjak meninggalkan rumah.

Putrinya itu menjawab lirih sembari menganggukan kepala. Lalu dengan takzim ia mencium lembut tangan ayahnya. Agak lama ia melakukannya, bahkan Sanusi dapat merasakan hangat air mata yang membasahi punggung tangannya itu.

“Yang sabar Nak, adik-adikmu masih butuh semangat darimu.” Sanusi berusaha menguatkan putrinya. Walaupun sebenarnya ia juga ingin menangis. Sampai Sanusi menjalankan motornya, ia masih dapat melihat Ayu berdiri di depan pintu, melepas kepergian ayahnya itu.

Pukul 07.30. Begitu yang Sanusi lihat di jam tangannya saat memasuki pengadilan. Amplop coklat itu masih Sanusi pegang. Bahkan sampai ia menggunakan baju kebesarannya sebagai seorang hakim, ia masih bimbang untuk mengambil keputusan. Ia belum mengembalikan amplop tersebut pada sang empunya, atau mungkin ia tidak akan pernah mengembalikannya?? Jika itu terjadi, siang ini tentu istrinya dapat melakukan operasi.

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi, di layarnya tertulis nama seseorang. Nama pria yang menemuinya dua hari yang lalu.

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?!

Tepat pukul 08.00 Sanusi memasuki ruang sidang. Dan terlihat sebuah amplop coklat serupa masih berada di atas mejanya.

***

            “Bagaimana Yah??” ucap Ayu ketika melihat Sanusi datang ke rumah sakit.

“Ibumu bisa operasi hari ini, Yu.”

“Alhamdulillah!” gumam Ayu dengan pelupuk mata yang basah.

Sanusi pun kemudian menyerahkan amplop coklat pada petugas administrasi rumah sakit. Ia tampak mengisi beberapa berkas yang diberikan petugas tersebut. Ada kristal di matanya, tapi tak sampai meluncur ke pipinya. Hanya lirih terdengar beribu-ribu do’a dari mulutnya, untuk keselamatan Lasmi istri tercinta.

Di lobby rumah sakit, siaran TV menyiarkan sidang perkara penyalahgunaan pajak yang dilakukan oleh salah satu oknum perpajakan. Hakim memvonis hukuman penjara dalam waktu yang cukup lama dan denda besar bagi terpidana tersebut. Terdengar gemuruh takbir membahana di muka sidang.

Sesosok pria kurus yang memimpin sidang tersebut tersenyum, tampak ia telah melepas sebagian beban yang menghimpitnya. Walaupun karena itu kemudian ia mesti merelakan amplop coklat yang diberikan padanya dua hari lalu diamankan oleh pihak berwajib sebagai barang bukti, dan pada waktu yang sama ia pun mesti merelakan berkas-berkas rumahnya untuk digadaikan.

Berkas-berkas rumah yang ia masukan juga pada sebuah amplop coklat.

***

 

 

Rabbi

Rabbi..  inginku Engkau bawa daku menujuMu..
 
Bukan dengan jalan nista tapi dengan jalan surga..
 
Jika surga itu mesti kujangkau dengan airmata
 
Jika surga itu mesti kujangkau dengan sakit berjuta
 
Aku rido Rabb.. AKu Rido Rabb..
 
Asal tak Engkau tinggalkan aku..
 
Asal Engkau pegang erat diriku melewati semua ini..
 
Asal Engkau mau berbaik hati menuntun hatiku menuju jalan terbaik bagiMu
 
Iringi langkahku kumohon,, jangan biarkan aku tersesat lagi.. jangan biarkan aku memilih jalan yang keliru lagi..

Dalam Doaku

 

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara…

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana…

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu…

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku…

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku…

Aku mencintaimu…
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu…

~*Sapardi Djoko Damono*~

[ Kumpulan Sajak "Hujan Bulan Juni", 1989 ]

SERUPA BUNGA

Cerpen oleh Greeny Azzahra

                “Mengapa?”

            Pertanyaan itu ia lontarkan setiap ibunya berkata,

            “Kau harus hidup.”

            “Apa gunanya?”

            Kembali ia lontarkan pertanyaan, dan setiap itu pula ibunya hanya mengakhiri dengan senyuman dan meninggalkannya sendirian.

            Dan seperti hari-hari sebelumnya, di pikirannya tergambar kembali hidup yang sudah tidak menarik, hanya serupa waktu yang sia-sia. Tak ada suka cita, atau warna-warni ceria. Baginya hidup terdimensi menjadi plafon kamar, tembok putih, kasur yang semakin lama semakin menghisap tubuhnya.

            Dulu ia tak begini. Semua tahu, semua ingat. Bunga yang ceria. Bunga yang merona. Bunga yang bahagia. Tapi sekarang?

            “Kau tetap bungaku.” Begitu yang selalu ibunya bilang. Setiap fajar dan setiap senja. Rutin. Selalu sama, dengan ajakan yang serupa;

            “Kau mau melihat fajar? Sungguh cantik.”

            Atau,

            “Kau mau melihat senja? Sungguh cantik.”

            Ia hanya menggeleng lemah. Kadang ia jawab dengan terdiam, kadang ia jawab dengan sebaris pertanyaan;

            “Buat apa? Tak ada gunanya  menikmati waktu. Bukankah fajar hanya menawarkan itu?”

            Atau,

            “Buat apa? Tak ada gunanya  menikmati kelam. Bukankah senja hanya menawarkan hitam?”

            Tapi ibunya seperti ibunya dulu. Bagi wanita itu tak ada waktu yang buruk. Semua waktu pasti baik. Bagi wanita itu tak ada kelam yang hitam. Semua kelam pasti berubah terang.

            Mungkin itu yang membuatnya kesal, ketika sebuah kecelakaan dengan tega merenggut kebahagiaannya, ibunya malah berkata;

            “Bukankah sesudah kesulitan ada kemudahan.”

            Tidak ibu! Kesulitan ini tak akan bertemu kemudahan! Kesulitan ini akan terus kurasakan! Ingin ia berteriak seperti itu. Tapi cinta yang berkaca di mata wanita tua itu, membuat semua ucapannya luruh hanyut beserta air mata.

***

            Siang itu ibu kembali menemuinya di kamar. Kali ini senyum ibunya lebih lebar dari biasanya. Dan ia, seperti dirinya kemarin-kemarin. Bergelung selimut kusam, di atas tempat tidur.

            Tak ada ucapan yang keluar dari mulut ibunya. Sesekali hanya batuk-batuk kecil yang terdengar. Ia amati ibunya itu yang sedari tadi melakukan beberapa aktivitas di kamarnya. Membuka tirai jendela. Mengelap meja di samping jendela. Merapihkan barang-barang di atasnya. Keluar. Kembali lagi dengan membawa sebuah pot berisi bunga.

            “ Dendrobium. Cantik bukan?” lalu ibunya meletakan pot tersebut di atas meja kamarnya.

            “Secantik bungaku.” Sambung ibunya kembali.

            Jadi kini bertambahlah penghuni baru di kamar itu. Sebuah pot dengan tanaman anggrek menghiasinya. Ia tak tahu apa maksud dari perbuatan ibunya itu. Buat apa? Tak ada gunanya! Pikirnya atas kehadiran bunga itu.

            Selanjutnya, setiap hari ibunya datang ke kamar. Menyapanya. Menjawab keluh kesahnya. Mengajaknya melihat fajar atau senja -walau dengan jawaban serupa-. Lalu kemudian merawat tanaman di meja itu. Hingga bunga itu semakin lama tampak semakin cantik.

            Ia berusaha tidak peduli dengan kehadiran bunga itu. Tapi matanya bahkan kini mulai mengkhianatinya. Rupa ungu yang berpadu putih memang indah, menariknya untuk menikmati itu semua.

            “Kau suka?” tanya ibunya ketika tak sengaja menangkap tatapannya yang tertuju pada  pot di atas meja.

            Ia tak menjawab.

            “Bunga, bagaimanapun rupanya. Orang selalu mengartikan bunga sebagai sebuah kecantikan, keindahan,” ibunya menarik nafas lalu melanjutkan lagi, “Begitupun engkau, Nak. Bagi ibu bagaimanapun rupamu, engkau tetap bunga ibu yang cantik.”

            Ia hanya terdiam. Ia rasakan matanya yang mulai memanas.

            Wanita itu menyentuh wajahnya, “Layu bukanlah kehendak bunga. Itu sebuah keniscayaan. Pasti terjadi suatu saat nanti. Dan kau, Nak. Belum saatnya merasakan itu.”

            Sekali lagi, ia hanya terdiam. Begitu ibunya keluar. Entah darimana datangnya, tiba-tiba ia beranikan diri untuk menarik badannya menjauhi tempat tidur dan mendekati kursi roda yang teronggok di sebelahnya. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha menjangkau kursi tersebut. Ingin ia memanggil ibunya. Meminta bantuannya. Tapi keberaniannya ternyata tak cukup banyak untuk melakukan itu.

            Berhasil! Pekiknya setelah susah payah akhirnya ia bisa menaiki kursi tersebut.

            Dengan gerakan yang kaku, ia memutar roda kursi tersebut. Mendekati meja di depannya. Ia raih kelopak dendrobium tersebut. Ia amati dengan seksama.

            “Kau sungguh cantik.” Gumamnya.

            Ia teringat sapaan kawan-kawannya dulu, “Kau Bunga, sungguh cantik!”

            Ia tergugu. Ia tahu sapaan itu tak akan ia dengar lagi sekarang.

            “Kau Bunga, sungguh cantik!” Ia menengok ke belakang. Wanita berbusana hijau di dekat pintu menyapanya.

            “Sama seperti bunga ini.” Ucap ibunya kembali begitu sampai di sampingnya.

            “Tidak, Bu. Tidak sama.”

            Ibunya meraih tangannya. Mendekatkan tangan itu ke dadanya.

            “Di sini. Ibu tahu, kau masih sama. Tetap Bunga yang cantik.”

            Tubuhnya bergetar. Menahan tangis agar tak tumpah.

            “Benarkan?”  sambung ibunya kembali.

            Ia tak menjawab.

            Kali ini ibunya menjangkau tirai jendela. Menyisihkan ke samping. Membuka perlahan kaca jendela. Sesaat dapat ia rasakan angin yang berhembus menggelitik wajahnya.

            Ia arahkan tatapannya pada pandangan di balik jendela. Ia terkejut.

            Sejak kapan halaman rumahnya berubah menjadi taman bunga? Bukan hanya ungu, tetapi merah, jingga, biru, hijau. Semua terhampar begitu indah.

            “Kau mau melihat senja? Sungguh cantik.” Tanya ibunya.

            Matanya kini basah. Dengan suara bergetar ia jawab pertanyaan ibunya itu,

            “Ya.”

***

Cerpen ini merupakan Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Se-Kota Bandung dengan tema Pendidikan Karakter yang diselenggarakan oleh  HIMA PERSIS Kota Bandung

JANJI MATI

Cerpen oleh Greeny Azzahra

dimuat di Rubrik Cerpen Majalah Ruang Makna PKPU Edisi 2

“Sial, hampir saja!” Umpatnya pelan.

Ia tengokan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tak merasa cukup, ia edarkan pandangan ke semua penjuru. Ruangan itu kosong.

Sedetik kemudian, ia hembuskan kembali nafasnya. Lega.

Serta merta ia hempaskan tubuhnya ke sofa. Butir keringat yang sembari tadi meleleh pelan menuruni dahi, ia usap sekenanya.

“Lain kali aku harus lebih sigap!” ujarnya. Hampir saja ia tertangkap.

Ia amati kalender yang menggantung. Bodoh! Kenapa ia bisa lupa jika hari ini tanggal 22?! Tinta merah tebal melingkari angka tersebut.

Pikirannya langsung mengingat peristiwa sebulan yang lalu. Ketika ia mengikrarkan janji.

“Aku janji! Kau boleh menemuiku sebulan lagi. Ya, tanggal 22 Mei nanti kau boleh datang padaku. Aku janji tidak akan melawanmu.” Lawan bicaranya tidak menjawab. Hanya suara serupa dengkuran yang keluar dari mulutnya. Atau itu hanya suara angin yang berhembus tepat di belakang mereka? Entahlah, kali itu ia tidak peduli. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan kata-kata rayuan yang akan ia ucapkan berikutnya.

“Istriku baru melahirkan. Berilah aku kesempatan untuk merasakan diri menjadi seorang ayah.”

Lawan bicaranya perlahan pergi menjauh. Ia tunggu terus hingga sosok itu lamat-lamat menghilang dari pandangan.

“Berhasil!” pekiknya girang.

Tapi ternyata sekelebat janji yang ia ucapkan itu luntur tergerus rutinitas yang ia jalani. Anak yang lucu, istri yang dicinta dan pekerjaan yang terus memberinya limpahan uang.

Pikirnya, tak ada janji yang mesti ia tepati. Pikirnya tak ada sosok yang mesti ia temui. Pikirnya tak ada ancaman, tak ada masalah, tak ada gertakan yang mesti ia rasakan.

Argghh, sekarang ia mengerti. Perencanaan yang matang tetap mesti ia lakukan, walaupun hanya untuk sekedar mengingkari janji.

Tok Tok!

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

“Siapa itu?!” ucapnya bergetar.

“Saya, Mas.” Suara lembut seorang wanita terdengar dari balik pintu.

“Oh, masuk saja. Tidak dikunci.”

Bukan dia.

“Kenapa sudah pulang, Mas? Bukannya Mas ada janji dengan klien?” istrinya bertanya heran.

“Aku tidak enak badan, Dinda.”

Bohong! Batinnya menjerit.

“Bisa tinggalkan Mas sendiri? Mas ingin istirahat.” Tanpa menjawab, istrinya menganggukan kepala dan keluar dari ruangan.

Dinda tak perlu tahu. Cukuplah dirinya yang kelelahan dikejar-kejar ketakutan. Selama ini bukankah ia telah cukup kuat berlari menjauh dari ketakutan? Jika tidak, tidak akan ada rumah mewah yang ia tempati sekarang. Tidak akan ada Mercy Hitam terpakir di halaman. Tidak akan ada ini, tidak akan ada itu.

Tapi kali ini ketakutan itu serupa mimpi buruk yang mendatanginya setiap waktu. Perlawanannya tak cukup kuat. Kegagahannya tak membantu banyak. Pertahanannya runtuh. Ia ambruk, pasrah dikerubuti takut. Gusti!

***

Matanya merah. Posisi duduknya tak berubah semenjak kemarin siang. Sesekali ia usap wajahnya. Menyapu kantuk yang menyerang.

“Saya sedang ingin sendiri, Dinda!” begitu yang ia katakan tiap kali istrinya memanggil dari balik pintu.

“Dia tak akan datang, aku yakin tak ada kedatangan ketiga, keempat dan seterusnya. Belum waktunya!” ia coba meyakinkan hati. Tapi setiap ia yakin, setiap itu pula ia ragu. Sungguh menakutkan!

Dulu, ia selalu yakin semua ketakutan telah berhasil ia lawan. Tak ada rasa takut ketika sikut-menyikut menjadi jurus utamanya mempertahankan jabatan. Tak ada rasa takut ketika bertumpuk uang haram ia habiskan kontan. Namun, perlahan waktu dengan sadisnya mengikis semua keyakinannya itu.

Prang!!

Refleks ia terlonjak dari duduknya, kaget oleh bunyi yang terdengar.

Mercyku!. Perasaannya sangat yakin bahwa bunyi itu berasal dari mobil yang terparkir di halaman.

Entah datang darimana keberanian itu. Ia bergegas membuka pintu yang terkunci, menuruni tangga, melewati istrinya yang keheranan, melewati satu persatu ruangan menuju halaman. Bagaimanapun mobil itu susah payah aku dapatkan! Batinnya.

Matanya membelalak. Ternyata benar, suara itu berasal dari mobil kesayangannya. Kaca depannya pecah. Beberapa goresan terlihat silang menyilang melukai body hitam mobilnya.

“Siapa yang melakukannya?!” teriaknya sembari memasuki mobil. Semua rasa takutnya seakan menguap dan berganti menjadi kekesalan. Mulutnya terus mengeluarkan sumpah serapah saat ia mencoba menghidupkan mesin. Untung mesinnya dapat menyala, setidaknya itu sedikit mengobati kekesalannya.

Namun sesaat sebelum menjalankan kendaraan kesayangannya itu, pegangannya pada stir melemah. Matanya nanar menatap angka yang berkedip-kedip di jam digital yang menghiasi dashboard. Bukan, bukan pada angka yang terbesar. Tetapi pada sebaris angka kecil di atas angka besar.

22-04-2011

Bukankah itu bulan lalu?

Ia terhenyak. Ia ingat!

Ada ia.

Ada istrinya.

Ada pertengkaran.

Ada kecelakaan.

Ada perjanjian.

Ada jawaban;

“Tak ada janji mati! Kebanyakan manusia mengingkari!!!”

***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.