Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘sastra’

AMPLOP COKLAT

Oleh Greeny Azzahra

dimuat di  Tribun Jabar Edisi Minggu, 3 Februari 2013

            Beberapa kali Sanusi menghela nafas seperti hendak melepas beban di dirinya, ujung matanya tak lepas dari amplop coklat yang tergeletak di meja kerjanya. Amplop coklat yang biasanya tidak pernah membawa kegundahan pada hatinya, amplop coklat yang sejatinya tidak pernah menarik perhatiannya. Tapi kini?

Sekali lagi pria itu menghela nafas, pikirannya menerawang jauh, mengingat bagaimana kondisi istri tercinta yang sudah sebulan ini mesti berbaring di rumah sakit karena kanker yang dideritanya, putri sulungnya yang baru saja masuk  perguruan tinggi serta kedua putranya yang masih duduk di bangku sekolah. Tentu tak sedikit biaya yang mesti ia keluarkan. Apalagi siang tadi dokter berkata bahwa istrinya harus segera melakukan operasi jika ingin selamat.

            Duh, Gusti. Rasanya semua itu terasa bagai batu yang mengganjal hatinya, sungguh menyesakan. Dan kini batu itu pun mulai mengusik nuraninya.

Dengan tangan bergetar, Sanusi membuka amplop coklat yang tadi siang ia terima. Perlahan, ia mulai mengeluarkan isi dari amplop tersebut. Sebenarnya ini kali pertama ia menyimpan amplop seperti ini, biasanya tanpa membuka isinya ia segera mengembalikan benda tersebut pada si pemberi.

            Bragghh..

Amplop tersebut jatuh dari tangannya beserta isi yang tercecer di lantai, terlihat 5 ikat tumpukan uang yang ia sendiri tidak tahu berapa, yang pasti jumlah tersebut belum pernah ia terima sebelumnya. Bergegas Sanusi merapihkan semua itu, dan meletakan amplop tersebut di laci meja kerjanya. Nampaknya ia tidak sanggup jika mesti menghitung jumlah uang yang kini kembali bersembunyi di dalam amplop coklat itu. Walaupun masih terngiang di telinganya pembicaraan tadi siang.

“Lima puluh juta, Pak.” Seorang pria berkumis menyodorkan sebuah amplop coklat yang menggelembung di meja kerjanya.

“Kalau Pak Sanusi tidak yakin, Bapak bisa menghitungnya kembali. Saya yakin uang itu bisa membantu biaya pengobatan istri Bapak.” Ucap pria itu kembali.

Agak tersentak Sanusi mendengar ucapan pria di depannya, bagaimana mungkin pria itu bisa mengetahui masalahnya? Ah, tapi ia kembali sadar bahwa bukan hal yang sulit mencari tahu kehidupan seseorang di zaman sekarang ini.

“Bapak tidak mesti mengambil keputusan sekarang, silahkan Bapak simpan dulu amplop tersebut. Dua hari lagi saya akan menghubungi Bapak sebelum sidang. Jika memang uang itu kurang, Bapak bisa menghubungi saya secepatnya.”

Belum sempat Sanusi menjawab, telepon di mejanya berdering. Dan mau tak mau ia mesti mengangkatnya. Tentu saja semua pembicaraan dengan dokter istrinya di telepon dapat didengar oleh pria berjas hitam tersebut. Setidaknya pasti pria itu dapat menangkap gurat kekhawatiran di wajahnya.

Pada akhirnya pembicaraan dengan dokter tadi siang membuat Sanusi mengambil keputusan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, yaitu mempertimbangkan amplop coklat yang ditawarkan padanya.

Duh Gusti, apa yang harus aku lakukan?! Beban yang mengganjal di hatinya kini luruh dalam bentuk air mata.

Ia kembali mengingat semua perjalanan hidupnya. Sebagai seorang hakim sebenarnya Sanusi bisa saja hidup berlimpah uang seperti sebagian rekan-rekan kerjanya yang lain. Tak sedikit tawaran menggiurkan yang disodorkan padanya, mulai dari mobil mewah, rumah mewah, ataupun dana cair seperti kali ini. Tapi ia sudah berkomitmen, jauh sebelum ia menjadi hakim, bahkan jauh sebelum ia masuk ke Perguruan Tinggi. Ia sudah memutuskan akan menjadi seorang penegak hukum yang jujur, yang amanah. Ia tidak mau orang lain merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan rumah hanya karena rekayasa hukum yang dibuat oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Sungguh menyakitkan jika Sanusi mengingat kenangan bagaimana ia dan ibunya mesti diusir secara paksa dari rumah yang mereka tinggali.

Bukan sekali dua kali ia mendapat ancaman bahkan teror atas semua komitmennya tersebut. Kalau bukan karena perlindungan-Nya, bisa saja ia telah kehilangan nyawa, meninggalkan anak istri tercinta. Atau sebaliknya ia yang akan bersedih kehilangan anak istri tercinta.

Sudahlah Sanusi, ambil saja tawaran ini. Toh kasus ini tidak melibatkan rakyat kecil? Hanya penyalahgunaan dana pajak! Rakyat kecil mana tahu urusan pajak! Hati kecil Sanusi bergumam.

Tapi tetap saja dana pajak itu seharusnya disalurkan kepada rakyat, bukan masuk pada kantong- kantong pejabat! Kali ini sisi hatinya yang lain berucap.

Sanusi bimbang. Semua seakan berkelebat di kepalanya, masa lalunya, pekerjaannya, kasus yang ditanganinya, tawaran tadi, keluarganya, dan istrinya. Ah, Lasmi apa yang harus aku lakukan? Dengan hati-hati ia mengambil foto yang terpajang di meja kerjanya. Foto yang diambil empat tahun lalu, ketika Sanusi dan keluarga menghabiskan waktu liburan di Yogyakarta. Tampak bahagia. Ayu ketika itu baru menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamanya, Raka masih duduk di bangku kelas lima, Ivan baru menginjak usia empat tahun. Dan Lasmi istrinya tampak mempesona saat itu, senyum manisnya terlihat indah, sama dengan ketika mereka pertama kali bertemu.

Namun, senyum manis itu kini sudah hampir satu bulan tidak dilihatnya, yang ada hanya tubuh yang tak berdaya yang terbaring lemah di rumah sakit. Mukanya pucat, tubuhnya sangat kurus. Sungguh membuat Sanusi merasa tecabik-cabik. Raganya seperti ikut teraniaya menyaksikan kondisi wanita yang dikasihinya itu.

Setelah divonis menderita kanker tiga tahun yang lalu, Sanusi mesti kerja keras untuk bisa membiaya pengobatan istrinya, walaupun ia memiliki asuransi kesehatan tetap saja banyak biaya yang mesti ia keluarkan. Bahkan ia mesti merelakan mobilnya untuk dijual. Tabungannya sudah banyak terkuras, dan saldonya tidak cukup banyak untuk membiaya operasi istrinya kali ini.Dan itu membuat Sanusi benar-benar bimbang. Apakah ia harus menyerah pada nasib dan membiarkan istrinya perlahan-lahan menjemput kematian? Ataukah Sanusi mesti menyerah pada komitmennya dan mengambil tawaran pihak terpidana tadi siang?

“Keputusan Ayah bagi Ibu selalu yang terbaik, karena itu Ibu selalu percaya pada semua keputusan Ayah.”

Terngiang suara lembut Lasmi setiap kali Sanusi meminta pendapat istrinya itu akan keputusan yang ia lakukan. Sanusi makin tergugu, tangisnya makin berderai, wajah istrinya tergambar jelas di matanya.

***

            Dua hari berlalu, pagi ini dirasakan Sanusi menjadi pagi yang terberat dalam hidupnya. Pukul 08.00 ia akan ke pengadilan, melakukan sidang perkara kasus yang ditanganinya. Dan tepat pukul satu siang ia mesti ke rumah sakit untuk menyerahkan uang pembayaran agar istrinya bisa melakukan operasi hari itu juga.

Sanusi meletakan amplop coklat dalam tas kerjanya, dengan tetap berusaha tersenyum ia menemani anak-anaknya sarapan pagi. Ivan berceloteh tentang pertandingan futsal yang ia menangkan kemarin. Ivan tidak tahu jika ibunya sedang mengalami masa kritis, sengaja Sanusi tidak memberitahu anak bungsunya itu, ia tidak tega untuk menceritakan hal tersebut. Cukup kedua kakaknya yang tahu, itu saja sudah dirasa berat bagi Sanusi, apalagi melihat keduanya tampak murung beberapa hari ini.

“Yu, insyaallah sehabis sidang Ayah langsung ke rumah sakit. Kamu duluan ke sana, ya? Tadi Ayah sudah menghubungi Bi Inah agar menjaga Ivan hari ini.” Ucap Sanusi pada putri sulungnya sebelum beranjak meninggalkan rumah.

Putrinya itu menjawab lirih sembari menganggukan kepala. Lalu dengan takzim ia mencium lembut tangan ayahnya. Agak lama ia melakukannya, bahkan Sanusi dapat merasakan hangat air mata yang membasahi punggung tangannya itu.

“Yang sabar Nak, adik-adikmu masih butuh semangat darimu.” Sanusi berusaha menguatkan putrinya. Walaupun sebenarnya ia juga ingin menangis. Sampai Sanusi menjalankan motornya, ia masih dapat melihat Ayu berdiri di depan pintu, melepas kepergian ayahnya itu.

Pukul 07.30. Begitu yang Sanusi lihat di jam tangannya saat memasuki pengadilan. Amplop coklat itu masih Sanusi pegang. Bahkan sampai ia menggunakan baju kebesarannya sebagai seorang hakim, ia masih bimbang untuk mengambil keputusan. Ia belum mengembalikan amplop tersebut pada sang empunya, atau mungkin ia tidak akan pernah mengembalikannya?? Jika itu terjadi, siang ini tentu istrinya dapat melakukan operasi.

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi, di layarnya tertulis nama seseorang. Nama pria yang menemuinya dua hari yang lalu.

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?!

Tepat pukul 08.00 Sanusi memasuki ruang sidang. Dan terlihat sebuah amplop coklat serupa masih berada di atas mejanya.

***

            “Bagaimana Yah??” ucap Ayu ketika melihat Sanusi datang ke rumah sakit.

“Ibumu bisa operasi hari ini, Yu.”

“Alhamdulillah!” gumam Ayu dengan pelupuk mata yang basah.

Sanusi pun kemudian menyerahkan amplop coklat pada petugas administrasi rumah sakit. Ia tampak mengisi beberapa berkas yang diberikan petugas tersebut. Ada kristal di matanya, tapi tak sampai meluncur ke pipinya. Hanya lirih terdengar beribu-ribu do’a dari mulutnya, untuk keselamatan Lasmi istri tercinta.

Di lobby rumah sakit, siaran TV menyiarkan sidang perkara penyalahgunaan pajak yang dilakukan oleh salah satu oknum perpajakan. Hakim memvonis hukuman penjara dalam waktu yang cukup lama dan denda besar bagi terpidana tersebut. Terdengar gemuruh takbir membahana di muka sidang.

Sesosok pria kurus yang memimpin sidang tersebut tersenyum, tampak ia telah melepas sebagian beban yang menghimpitnya. Walaupun karena itu kemudian ia mesti merelakan amplop coklat yang diberikan padanya dua hari lalu diamankan oleh pihak berwajib sebagai barang bukti, dan pada waktu yang sama ia pun mesti merelakan berkas-berkas rumahnya untuk digadaikan.

Berkas-berkas rumah yang ia masukan juga pada sebuah amplop coklat.

***

 

 

Iklan

Read Full Post »

 

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara…

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana…

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu…

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku…

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku…

Aku mencintaimu…
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu…

~*Sapardi Djoko Damono*~

[ Kumpulan Sajak “Hujan Bulan Juni”, 1989 ]

Read Full Post »

JANJI MATI

Cerpen oleh Greeny Azzahra

dimuat di Rubrik Cerpen Majalah Ruang Makna PKPU Edisi 2

“Sial, hampir saja!” Umpatnya pelan.

Ia tengokan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tak merasa cukup, ia edarkan pandangan ke semua penjuru. Ruangan itu kosong.

Sedetik kemudian, ia hembuskan kembali nafasnya. Lega.

Serta merta ia hempaskan tubuhnya ke sofa. Butir keringat yang sembari tadi meleleh pelan menuruni dahi, ia usap sekenanya.

“Lain kali aku harus lebih sigap!” ujarnya. Hampir saja ia tertangkap.

Ia amati kalender yang menggantung. Bodoh! Kenapa ia bisa lupa jika hari ini tanggal 22?! Tinta merah tebal melingkari angka tersebut.

Pikirannya langsung mengingat peristiwa sebulan yang lalu. Ketika ia mengikrarkan janji.

“Aku janji! Kau boleh menemuiku sebulan lagi. Ya, tanggal 22 Mei nanti kau boleh datang padaku. Aku janji tidak akan melawanmu.” Lawan bicaranya tidak menjawab. Hanya suara serupa dengkuran yang keluar dari mulutnya. Atau itu hanya suara angin yang berhembus tepat di belakang mereka? Entahlah, kali itu ia tidak peduli. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan kata-kata rayuan yang akan ia ucapkan berikutnya.

“Istriku baru melahirkan. Berilah aku kesempatan untuk merasakan diri menjadi seorang ayah.”

Lawan bicaranya perlahan pergi menjauh. Ia tunggu terus hingga sosok itu lamat-lamat menghilang dari pandangan.

“Berhasil!” pekiknya girang.

Tapi ternyata sekelebat janji yang ia ucapkan itu luntur tergerus rutinitas yang ia jalani. Anak yang lucu, istri yang dicinta dan pekerjaan yang terus memberinya limpahan uang.

Pikirnya, tak ada janji yang mesti ia tepati. Pikirnya tak ada sosok yang mesti ia temui. Pikirnya tak ada ancaman, tak ada masalah, tak ada gertakan yang mesti ia rasakan.

Argghh, sekarang ia mengerti. Perencanaan yang matang tetap mesti ia lakukan, walaupun hanya untuk sekedar mengingkari janji.

Tok Tok!

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

“Siapa itu?!” ucapnya bergetar.

“Saya, Mas.” Suara lembut seorang wanita terdengar dari balik pintu.

“Oh, masuk saja. Tidak dikunci.”

Bukan dia.

“Kenapa sudah pulang, Mas? Bukannya Mas ada janji dengan klien?” istrinya bertanya heran.

“Aku tidak enak badan, Dinda.”

Bohong! Batinnya menjerit.

“Bisa tinggalkan Mas sendiri? Mas ingin istirahat.” Tanpa menjawab, istrinya menganggukan kepala dan keluar dari ruangan.

Dinda tak perlu tahu. Cukuplah dirinya yang kelelahan dikejar-kejar ketakutan. Selama ini bukankah ia telah cukup kuat berlari menjauh dari ketakutan? Jika tidak, tidak akan ada rumah mewah yang ia tempati sekarang. Tidak akan ada Mercy Hitam terpakir di halaman. Tidak akan ada ini, tidak akan ada itu.

Tapi kali ini ketakutan itu serupa mimpi buruk yang mendatanginya setiap waktu. Perlawanannya tak cukup kuat. Kegagahannya tak membantu banyak. Pertahanannya runtuh. Ia ambruk, pasrah dikerubuti takut. Gusti!

***

Matanya merah. Posisi duduknya tak berubah semenjak kemarin siang. Sesekali ia usap wajahnya. Menyapu kantuk yang menyerang.

“Saya sedang ingin sendiri, Dinda!” begitu yang ia katakan tiap kali istrinya memanggil dari balik pintu.

“Dia tak akan datang, aku yakin tak ada kedatangan ketiga, keempat dan seterusnya. Belum waktunya!” ia coba meyakinkan hati. Tapi setiap ia yakin, setiap itu pula ia ragu. Sungguh menakutkan!

Dulu, ia selalu yakin semua ketakutan telah berhasil ia lawan. Tak ada rasa takut ketika sikut-menyikut menjadi jurus utamanya mempertahankan jabatan. Tak ada rasa takut ketika bertumpuk uang haram ia habiskan kontan. Namun, perlahan waktu dengan sadisnya mengikis semua keyakinannya itu.

Prang!!

Refleks ia terlonjak dari duduknya, kaget oleh bunyi yang terdengar.

Mercyku!. Perasaannya sangat yakin bahwa bunyi itu berasal dari mobil yang terparkir di halaman.

Entah datang darimana keberanian itu. Ia bergegas membuka pintu yang terkunci, menuruni tangga, melewati istrinya yang keheranan, melewati satu persatu ruangan menuju halaman. Bagaimanapun mobil itu susah payah aku dapatkan! Batinnya.

Matanya membelalak. Ternyata benar, suara itu berasal dari mobil kesayangannya. Kaca depannya pecah. Beberapa goresan terlihat silang menyilang melukai body hitam mobilnya.

“Siapa yang melakukannya?!” teriaknya sembari memasuki mobil. Semua rasa takutnya seakan menguap dan berganti menjadi kekesalan. Mulutnya terus mengeluarkan sumpah serapah saat ia mencoba menghidupkan mesin. Untung mesinnya dapat menyala, setidaknya itu sedikit mengobati kekesalannya.

Namun sesaat sebelum menjalankan kendaraan kesayangannya itu, pegangannya pada stir melemah. Matanya nanar menatap angka yang berkedip-kedip di jam digital yang menghiasi dashboard. Bukan, bukan pada angka yang terbesar. Tetapi pada sebaris angka kecil di atas angka besar.

22-04-2011

Bukankah itu bulan lalu?

Ia terhenyak. Ia ingat!

Ada ia.

Ada istrinya.

Ada pertengkaran.

Ada kecelakaan.

Ada perjanjian.

Ada jawaban;

“Tak ada janji mati! Kebanyakan manusia mengingkari!!!”

***

Read Full Post »

Alhamdulillah hari ini behasil membaca sekaligus menamatkan buku Fenomenal “Belenggu” Karya Armijn Pane..Ah, merasa menyesal tidak membacanya ketika akan di diskusikan di Kamisan FLP Bandung. Padahal buku ini sangat menarik dan menggigit untuk didiskusikan.

Buku ini berhasil membuat mata sy enggan beranjak untuk berhenti membaca deret demi deret kata yang dituliskan Armijn.. gaya bahasa yang kemelayu-melayuan tak menjadi kendala untuk menikmati cerita, tak salah jika buku ini menjadi salah roman klasik modern Indonesia yang mesti dibaca segala orang 😀

Banyak hal yang dapat dipetik dari buku ini, namun kali ini saya tak ingin berbicara sastra, gaya bahasa, maupun tentang sang pengarang.. sy ingin berbicara tentang pesan moral yang sarat menggenang di tiap lembar cerita..

****

Buku ini bercerita tentang Tono seorang dokter yang merasa kesepian dan hampa dikarenakan istrinya Tini tidak bisa melayaninya sebagaimana seorang istri seharusnya.. Di sisi lain, Tini yang dianggap tidak peka terhadap keberadaan Tono, ternyata merasakan perasaan yang sama seperti yang dirasakan Tono. Tini merasa Tono semakin dingin dan acuh padanya. Perasan pasangan suami-istri itu ternyata menjadi bumerang ketika keduanya sama-sama tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakan hati masing-masing.

Di tengah kegelisahan dan kejemuan yang ia rasakan, Tono bertemu dengan seorang wanita bernama Yah, sosok yang menurutnya ideal untuk dijadikan seorang pendamping. Yah dianggap dapat memberinya hiburan, semangat dan dapat mengerti semua hal yang dirasakan Tono. Lalu terjadilah hubungan terlarang di antara Tono dan Yah.

Namun, Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai pasti tercium juga, begitu pula yang terjadi pada perselingkuhan Tono dan Yah. Tini akhirnya mengetahui adanya wanita lain di sisi suaminya. Tapi tanpa diduga,Tini memilih untuk meninggalkan suaminya dan menitipkannya pada Yah yang ia anggap dapat menjadi pendamping yang baik bagi Tono.

Apakah Tono akhirnya hidup berbahagia dengan Yah?

Silahkan teman2 temukan sendiri jawabannya di buku tersebut.. 🙂

*****

Yang pasti,salah satu hal penting dari buku ini yang dapat kita petik adalah bahwa dua orang yang hidup satu atap baiknya saling terbuka, tidak menutup-nutupi apa yang dirasakan masing-masing. Keterbukaan akan meminimalisir pertengkaran,buruk sangka, kesalahpahaman dan hal-hal buruk lainnya.

Salah satu pelarian dari ketidakharmonisan hubungan suami istri adalah perselingkuhan. Namun, ternyata perselingkuhan memang selamanya tidak akan pernah berujung pada kebaikan. tidak akan ada pihak yang dibahagiakan. Masing-masing pihak akan dirugikan, Armijn Pane berhasil membuat saya larut dalam kesedihan Tini, kebimbangan Tono dan “ketidaklayakan” Yah..

Yakinlah, Seorang suami sejati tidak akan pernah “bermain” di belakang sang istri, seburuk-buruknya perangai istri tersebut. Dan seorang istri sejati tidak akan pernah berlaku buruk terhadap suaminya, seacuh-acuhnya suami tersebut.

“Cinta adalah madu kehidupan, yang cepat berubah menjadi racun jika tercampur dengan ketidak-setiaan. Tidak akan kau capai kedamaian dalam cintamu, jika satu saja darimu tidak berlaku setia kepada yang lain. … Cinta mengharuskan kesetiaan. Dan, Kesetiaan membutuhkan cinta. Sehingga sesungguhnya, Orang yang tidak setia, tidak akan mampu mencintai. Dan apakah engkau sedang memaksa orang yang tidak mampu setia, untuk mencintaimu? Janganlah kau sia-siakan keranuman hidupmu dengan menelangsakan hatimu dalam harapan yang sia-sia. Perhatikanlah keindahan hati dan dirimu, karena itulah yang dijadikan oleh Tuhan sebagai penentu keindahan jiwa yang akan ditemukanNya denganmu.” (Mario Teguh)

Bandung, 24012011

greeny Azzahra

Read Full Post »