Aku kini terjebak dalam gelap tak bertepi
Terpuruk, melewati sepi sendiri
Enggan kupandangi celah yang menerobos diri
Hidanganku tak lebih dari sepiring caci maki
Gaung teriakan di luar, coba kututupi
Ah, karena enggan aku menyusahkan diri
Hallo?! Apa kau mengerti!?
Bagiku dunia seperti kutukan diri
Menyelimuti malam dengan rasa nyeri
Walau, sebenarnya aku iri
Pada surya yang menelagakan hati
Dengan cahaya berpelangi
Lalu siapa yang akan memberi?
Tak ku tengok tiap jiwa yang menanti
Bandung, 2008
Sebenarnya puisi ini setelah dibaca dan diresapi ulang olehku,,sungguh penuh dengan aroma pesimistis dan negatif,,ini dulu aku tulis saat merasa terpuruk,,heuu,,
semoga bisa jadi bahan renungan bwt kita bahwa “pasti ada tiap jiwa yang menanti kita, untuk memberi surya yang menelagakan hati,,” Laa Tahzan Kawan ,,,




