Kaya memang bukan tujuan hidup yang utama..
tetapi menjadi kaya adalah salah satu jalan agar dapat menolong sesama..
“Harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi pemeliharaan ketakwaan kepada Allah.” (HR. Ad-Dailami)
Diposkan dalam Obrolan Ku, Renungan hati, Label hikmah, kaya, kemiskinan, renungan, sedekah pada Mei 17, 2011 | 2 Komentar »
“Harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi pemeliharaan ketakwaan kepada Allah.” (HR. Ad-Dailami)
Diposkan dalam Renungan hati, Label cerita, hikmah, ibu, islam, renungan pada Mei 24, 2010 | 33 Komentar »
Mungkin sudah banyak dari teman-teman yang mendengar cerita ini, tapi menurut saya tidak ada salahnya saya kembali menceritakan ini, sebuah pengingat bagi kita sebagai seorang anak yang terlahir dari rahim seorang IBu..
Suatu Sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Kemudian anak tersebut menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisnya. Setelah sang Ibu mengeringkan tangannya dengan celemek, lalu ia membaca tulisan itu dan inilah isinya :
untuk memotong rumput, dua ribu rupiah
untuk membersihkan kamar tidur, seribu rupiah
untuk pergi ke toko disuruh ibu, lima ratus rupiah
untuk membuang sampah, seribu rupiah
untuk nilai raport yang bagus, tigaribu rupiah
untuk membersihkan dan menyapu halaman, lima ratus rupiah
jadi jumlah UTANG IBU : DELAPAN RIBU LIMA RATUS RUPIAH
Sang Ibu memandang anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang Ibu, kemudian ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya, lalu ia menulis :
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, GRATIS
untuk setiap malam ibu menemani kamu, GRATIS
untuk mengobati kamu dan mendoakan kamu, GRATIS
untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurusmu, GRATIS
untuk seluruh jumlah harga cinta ibu adalah GRATIS
untuk semua mainan, makan dan baju semua GRATIS
“Anakku…. Seandainya kamu menjumlahkan semuanya, akan kau dapati bahwa seluruhnya adalah GRATIS..”
Seusai apa yang dibaca ibunya, sang anak pun berlinang air mata kemudian sang anak menatap wajah ibunya, ia berkata : ” Bu, aku sayang sekali sama ibu ” lalu anak itu mengambil pulpen dan menuliskan kata dengan huruf besar : LUNAS
Bila kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya begitu dalam, padahal itu hanya 1 dari seratus bagian dari kasih sayang Allah Ar Rohim yang dibagikan kepada seluruh makhluknya ( manusia, hewan ) di dunia ini. Maka karunia kasih sayang seperti apa yang akan Allah berikan kepada penghuni surga nanti yang perbandingannya 99 bagian??
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Diposkan dalam Obrolan Ku, Renungan hati, Label cerita, cinta, diari, hikmah, patah hati, renungan pada Mei 23, 2010 | 28 Komentar »
Kemarin menghadiri acara Dialog Interaktif Remaja Putri ( DIARI ) Di SMA ku tercinta..
Pengisinya Teh Ninih ( Istri Aa Gym ), mengangkat tema yang membuat aku penasaran dan akhirnya meluangkan waktuku untuk datang ke sana, yaitu ” Indahnya Patah Hati, Ketika Kesedihan menjadi pengobat Hati”
Dan Subhanalloh aku mendapat pelajaran yang sangat berharga, walaupun T Ninih hanya mengisi sebentar (kurang lebih 45 menit ) tapi ilmu yang beliau bagikan sungguh berharga..
salah satu kutipan beliau yang masih saya ingat yaitu :
” Adakalanya ketika kita patah hati, saat kita berdoa kepada Allah SWT, perasaan ini menjadi sedemikian halus, hingga tiap doa yang terucap begitu mengena pada hati dan kita merasa begitu dekat denganNya..” ( Redaksi saya)
dan ternyata saya baru tersadarkan bahwa kalimat tersebut memang benar adanya.. ketika kita patah hati kadang sujud ini malah lebih panjang, doa ini kadang disertai tangisan..
So, jangan takut patah hati, karena bisa jadi patah hati kita menjadi jalan untuk lebih menautkan hati kita padaNYa..
Barakkallohufik..
Semoga keberkahan meliputi hari-hari mu kawan..
![]()
Diposkan dalam Renungan hati, Label akhwat, hijab, hikmah, ikhwan, renungan, saudariku pada Mei 5, 2010 | 17 Komentar »
Kembali menemukan note yang bagus di salah satu FB temanku..
Semoga bermanfaat
ceritanya ini teh surat dari saudaraku (ikhwan maksudnya,,,) untuk saudariku,,,
selamat menyimak.
—-oooooooooooooooooooooo
Nasyid : Nuansa
Judul : Kepada Saudariku
Kepada saudariku aku ingin berpesan
Dari hati yang tulus, tidaklah memaksa
Tahanlah pandanganmu, perhatikan hijabmu
Tegaskan bicaramu, jangan buat aku lena
Kau sebaik-baiknya perhiasan di dunia
Surgalah imbalannya atas semua baktimu
Kalaulah aku berpesan, bukannya ingin mencela
Tapi karena Rasul kita menitipkan kau padaku
Dengarlah pesanku ini, jadikan peneguh hati
Selamatlah didunia, bahagia kau di Surga
Dengarlah pesanku ini, jadikan peneguh hati
Selamatlah didunia, bahagia kau di Surga
Diposkan dalam Renungan hati, Label cerita, hidup, hikmah, renungan pada Maret 16, 2010 | 2 Komentar »
Kembali menemukan sebuah ironi saat menyaksikan tayangan televisi.
Di Sumatera Utara,
Yusuf, seorang bocah berusia 9 tahun harus mengalami suratan takdir yang memilukan. Ia tidak bisa melihat, berbicara dan kedua kakinya lumpuh. Ia tidak bisa menikmati indahnya langit senja, ia tidak bisa berceloteh riang bersama keluarga, ia tidak bisa berlari penuh semangat mengejar tiap impiannya. Yaa, ia tidak bisa melakukan semua itu.
Yusuf hanya dapat tergugu pasrah menerima takdir pahit, tentu di hatinya dan hati keluarganya ada secercah harapan, harapan agar Yusuf dapat menikmati hidup lebih baik, dan dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.. harapan agar ada uluran tangan manusia yang mau membagikan kebahagian dengan sekantung kebaikan..
Menyeberangi lautan ke ujung Timur Papua, Merauke..
Seorang Nelayan pada akhirnya menyerah pada nestapa takdir, dan memilih untuk meregang nyawa, menggantung diri di pohon dan menyisakan tangis serta setumpuk hutang pada keluarganya, yaa hanya karena setumpuk hutang.
Kemelut hidup membuat seorang manusia “normal” dengan segala kesempurnaan fisik memilih suatu takdir yang semesta pun melaknatnya. Memilih meninggalkan dunia yang fana dan memasuki fase “kehidupan” baru dengan cara yang paling buruk.
Semoga Ironi hidup di atas mengingatkan kita pada ayat di bawah ini:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(Al-Hadid”22-23)
Diposkan dalam Renungan hati, Label cerita, cinta, hikmah, renungan pada Maret 6, 2010 | 18 Komentar »
Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.
Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan.
Ramai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan.
Lalu bagi kita, cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?
Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.
Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.
Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.
Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?
Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.
Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya. Dia berfirman : ‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan. Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”
Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.” (Mutafaq ‘alaih)
Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.
Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.
Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”
Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta’ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Sabili No.09 Th.X)
Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.
Cinta kepada Allah memang harus diletakkan di atas segalanya. Namun, bukan berarti cinta kita kepada manusia yang lain tersingkirkan. Cinta seperti itu seharusnya tetap ada dan memang akan terus ada karena secara alami Allah telah ciptakan bagi kita. Namun, harus dipastikan bahwa iman yang menjadi satu-satunya sandaran. Sandaran bagi cinta. Sandaran bagi benci kita.
Allah berfirman dalam hadist Qudsi:”KecintaanKu pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karenaKu. Kecintaanku berhak diperoleh olah orang yang saling memberi karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karenaKu.”
Keindahan cinta seperti itu pernah ditunjukkan oleh Suhail bin Amr, Ikrimah bin Jahal, dan Al Harist bin Hisyam. Ketiganya adalah syuhada di Perang Yarmuk tahun 15 H. Saat itu mereka bertiga mengalami dahaga yang luar biasa. Para sahabat yang mengetahui itu segera membawakan air kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena dia melihat Suhail merasakan yang sama. Ikrimah meminta para sahabat memberikan air itu kepada Suhail. Rasa haus sudah mencengkeram kerongkongan, namun di titik nafas penghabisan itu Suhail melihat Al-Harits bin Hisyam juga sedang kehausan. Dia meminta air itu diberikan kepada Al Harits. Ketika air itu tiba, ternyata Al Harits sudah tiada. Air itu segera dibawa ke Ikrimah kembali, ternyata dia pun sudah tidak bernafas lagi. Sahabat langsung membawakan air kepada Suhail, ternyata kondisi Suhail pun sama, sudah gugur menjadi syuhada. Akhirnya mereka bertiga syahid dalam pengorbanan dan kesetiaan kepada saudara seiman, seakidah, dan tentunya wafat dalam berjuang di jalan Allah, jihad fisabilillah.
Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang. Ketika itu yang terjadi maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa. Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka. Keinginan kita menuju surgaNya akan sirna.
“Betapa buruk pemuda yang memiliki budi pekerti
dipaksa mengorbankan adab karena nafsu diri
kehinaan didatangi padahal ia mengetahuinya
kehormatannya terkoyak dan kehinaan dijaga
kesadarannya bangkit tatkala dia jatuh terjerembab
dia menangis tatkala tak mampu lagi bangkit” (Syair Abu Bulaf al-Ajly)
Bro en Sis, Allah Swt. masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mencintaiNya dan kita masih memiliki peluang untuk menerima curahan kasih sayangNya. Lalu mengapa kita tidak berusaha mewujudkan itu pada diri kita? Jangan sampai ada rasa sesal di kemudian hari karena kesempatan yang berharga telah hilang dari diri.
Cinta Allah akan senantiasa mengalir bagi para hambaNya. Siang. Malam. Saat manusia terjaga. Saat manusia terlelap. Ketika manusia ingat. Ketika manusia khilaf. Tiap detik helaan nafas. Tiap hentakan langkah yang kita buat. Tiap waktu cinta Allah hadir selalu. Cinta tanpa titik akhir. Tanpa jeda. Cinta tanpa koma. Kita pun wajib membalasnya dengan upaya sekuat tenaga untuk memgkokohkan iman, memelihara perjuangan, tentunya diiringi doa dan ketulusan.
http://www.facebook.com/topic.php?topic=13788&post=58707&uid=154698186446#post58707
Diposkan dalam Karyaku, Label cerita, hikmah, Karya Sastra, renungan, sajak pada Maret 2, 2010 | 2 Komentar »
Diposkan dalam Renungan hati, Label hikmah, renungan, surga pada Februari 26, 2010 | 13 Komentar »
FIRDAUS REGENCY
Hunian nyaman tak terbayangkan!
TYPE:
>jannatun na im
>jannatul ma wa
(Ready stock)
FASILITAS:
>sungai susu salsabila
>view tak terbatas
>akses masuk 7 pintu utama
>sarana olahraga mahalengkap&mahaluas
>taman JUTAAN hektar dg buah segar, ranum, nikmat, dan siap santap
SYARAT PEMESANAN:
>bertaubat&kembali kepada jalan Allah
>Memegang teguh agama Allah
>menjadi muslim soleh&muslih
Tersedia:
KAVLING EKSKLUSIF BAGI MUJAHID DAKWAH
Kantor Pemasaran:
Jl. Fisabilillah, Bumi Allah
Telp: 34244+ yang sunnah
DISKON 100% BAGI ANDA YG MEMESAN SEKARANG!!
(Muslimorfosis, ProgramTutorial UPI^^)
Diposkan dalam Renungan hati, Label cerita, hikmah, islam, religius, renungan pada Februari 17, 2010 | 2 Komentar »
Pada suatu hari al-Imam Asy Syafi’i ra datang berkunjung ke rumah al-Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersama, al-Imam Asy Syafi’i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya, dan beliau segera berbaring (tidur) hingga esok fajar.
Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi’i sejak awal kedatangannya hingga masuk kamar tidur, terkejut melihat teman dekat ayahnya itu. Dengan terheran-heran ia bertanya, “Ayah…, ayah selalu memuji dan mengatakan bahwa Imam Syafi’i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira.”
Imam Ahmad agak terkejut mendengar perkataan puterinya. Ia balik bertanya, “Ia seorang yang alim, anakku. Mengapa engkau berkata demikian?” Sang putri berkata lagi, “Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah. Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua, sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru keluar dari kamarnya sesudah tiba shalat subuh. Ketiga, ia shalat subuh tanpa berwudhu.
Imam Ahmad merenungkan perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi’i. Maka Imam Syafi’i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut. Lalu dia berkata, “Ya Ahmad, ketahuilah olehmu. Aku banyak makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal dan thoyib. Maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku bisa makan dengan tenang dan lahap. Lagi pula aku tahu engkau adalah seorang pemurah. Makanan orang pemurah itu adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit. Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu itu, ya Ahmad. Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam karena ketika aku meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan aku melihat dihadapanku kitab Allah dan sunnah Rasulnya. Dengan izin Allah, malam itu aku dapat menyusun 72 masalah ilmu fiqih Islam sehingga aku tidak sempat shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu lagi ketika shalat subuh karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar dengan wudhu shalat Isya’.