JANJI MATI
Cerpen oleh Greeny Azzahra
dimuat di Rubrik Cerpen Majalah Ruang Makna PKPU Edisi 2
“Sial, hampir saja!” Umpatnya pelan.
Ia tengokan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tak merasa cukup, ia edarkan pandangan ke semua penjuru. Ruangan itu kosong.
Sedetik kemudian, ia hembuskan kembali nafasnya. Lega.
Serta merta ia hempaskan tubuhnya ke sofa. Butir keringat yang sembari tadi meleleh pelan menuruni dahi, ia usap sekenanya.
“Lain kali aku harus lebih sigap!” ujarnya. Hampir saja ia tertangkap.
Ia amati kalender yang menggantung. Bodoh! Kenapa ia bisa lupa jika hari ini tanggal 22?! Tinta merah tebal melingkari angka tersebut.
Pikirannya langsung mengingat peristiwa sebulan yang lalu. Ketika ia mengikrarkan janji.
“Aku janji! Kau boleh menemuiku sebulan lagi. Ya, tanggal 22 Mei nanti kau boleh datang padaku. Aku janji tidak akan melawanmu.” Lawan bicaranya tidak menjawab. Hanya suara serupa dengkuran yang keluar dari mulutnya. Atau itu hanya suara angin yang berhembus tepat di belakang mereka? Entahlah, kali itu ia tidak peduli. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan kata-kata rayuan yang akan ia ucapkan berikutnya.
“Istriku baru melahirkan. Berilah aku kesempatan untuk merasakan diri menjadi seorang ayah.”
Lawan bicaranya perlahan pergi menjauh. Ia tunggu terus hingga sosok itu lamat-lamat menghilang dari pandangan.
“Berhasil!” pekiknya girang.
Tapi ternyata sekelebat janji yang ia ucapkan itu luntur tergerus rutinitas yang ia jalani. Anak yang lucu, istri yang dicinta dan pekerjaan yang terus memberinya limpahan uang.
Pikirnya, tak ada janji yang mesti ia tepati. Pikirnya tak ada sosok yang mesti ia temui. Pikirnya tak ada ancaman, tak ada masalah, tak ada gertakan yang mesti ia rasakan.
Argghh, sekarang ia mengerti. Perencanaan yang matang tetap mesti ia lakukan, walaupun hanya untuk sekedar mengingkari janji.
Tok Tok!
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
“Siapa itu?!” ucapnya bergetar.
“Saya, Mas.” Suara lembut seorang wanita terdengar dari balik pintu.
“Oh, masuk saja. Tidak dikunci.”
Bukan dia.
“Kenapa sudah pulang, Mas? Bukannya Mas ada janji dengan klien?” istrinya bertanya heran.
“Aku tidak enak badan, Dinda.”
Bohong! Batinnya menjerit.
“Bisa tinggalkan Mas sendiri? Mas ingin istirahat.” Tanpa menjawab, istrinya menganggukan kepala dan keluar dari ruangan.
Dinda tak perlu tahu. Cukuplah dirinya yang kelelahan dikejar-kejar ketakutan. Selama ini bukankah ia telah cukup kuat berlari menjauh dari ketakutan? Jika tidak, tidak akan ada rumah mewah yang ia tempati sekarang. Tidak akan ada Mercy Hitam terpakir di halaman. Tidak akan ada ini, tidak akan ada itu.
Tapi kali ini ketakutan itu serupa mimpi buruk yang mendatanginya setiap waktu. Perlawanannya tak cukup kuat. Kegagahannya tak membantu banyak. Pertahanannya runtuh. Ia ambruk, pasrah dikerubuti takut. Gusti!
***
Matanya merah. Posisi duduknya tak berubah semenjak kemarin siang. Sesekali ia usap wajahnya. Menyapu kantuk yang menyerang.
“Saya sedang ingin sendiri, Dinda!” begitu yang ia katakan tiap kali istrinya memanggil dari balik pintu.
“Dia tak akan datang, aku yakin tak ada kedatangan ketiga, keempat dan seterusnya. Belum waktunya!” ia coba meyakinkan hati. Tapi setiap ia yakin, setiap itu pula ia ragu. Sungguh menakutkan!
Dulu, ia selalu yakin semua ketakutan telah berhasil ia lawan. Tak ada rasa takut ketika sikut-menyikut menjadi jurus utamanya mempertahankan jabatan. Tak ada rasa takut ketika bertumpuk uang haram ia habiskan kontan. Namun, perlahan waktu dengan sadisnya mengikis semua keyakinannya itu.
Prang!!
Refleks ia terlonjak dari duduknya, kaget oleh bunyi yang terdengar.
Mercyku!. Perasaannya sangat yakin bahwa bunyi itu berasal dari mobil yang terparkir di halaman.
Entah datang darimana keberanian itu. Ia bergegas membuka pintu yang terkunci, menuruni tangga, melewati istrinya yang keheranan, melewati satu persatu ruangan menuju halaman. Bagaimanapun mobil itu susah payah aku dapatkan! Batinnya.
Matanya membelalak. Ternyata benar, suara itu berasal dari mobil kesayangannya. Kaca depannya pecah. Beberapa goresan terlihat silang menyilang melukai body hitam mobilnya.
“Siapa yang melakukannya?!” teriaknya sembari memasuki mobil. Semua rasa takutnya seakan menguap dan berganti menjadi kekesalan. Mulutnya terus mengeluarkan sumpah serapah saat ia mencoba menghidupkan mesin. Untung mesinnya dapat menyala, setidaknya itu sedikit mengobati kekesalannya.
Namun sesaat sebelum menjalankan kendaraan kesayangannya itu, pegangannya pada stir melemah. Matanya nanar menatap angka yang berkedip-kedip di jam digital yang menghiasi dashboard. Bukan, bukan pada angka yang terbesar. Tetapi pada sebaris angka kecil di atas angka besar.
22-04-2011
Bukankah itu bulan lalu?
Ia terhenyak. Ia ingat!
Ada ia.
Ada istrinya.
Ada pertengkaran.
Ada kecelakaan.
Ada perjanjian.
Ada jawaban;
“Tak ada janji mati! Kebanyakan manusia mengingkari!!!”
***





aduh riezka engga ngerti, sy mmg agak sulit mencerna. hehe. maksud dari ceritanya apa teh? ^_^